Perang Saudara, Pendusta vs Pendusta!!!


بسم الله الرحمن الرحيم

RAJA FAHD KAFIR?!
(PERTARUNGAN ANTARA IRSYADIYYUN PENGHINA SHAHABAT NABI DAN PARA ULAMA VS PENDUSTA QIBLATI AL IKHWANI)
: 09/04/08

Bismillah. Jika tak kenal maka tak waspada, itulah salah satu slogan fakta.

Peringatan Keras!
Al Imam Al Hafidz Abul Qasim Ibnu ‘Asakir rahimahullah berkata:
“Ketahuilah wahai saudaraku – semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberi petunjuk kepada kita semua ke dalam keridhaanNya dan menjadikan kita ke dalam golongan orang-orang yang takut kepadaNya dan bertaqwa dengan sebenar-benarnya taqwa – bahwa daging para ulama itu beracun, sebagaimana diketahui bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala akan mengoyak penutup orang-orang yang menghinakan mereka dan siapa saja yang melepaskan lidahnya untuk menjelekkan dan menghinakan para ulama, maka akan ditimpakan oleh Allah kepada orang itu matinya hati sebelum kematian dirinya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman (artinya):
“Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa adzab yang pedih” (QS. An Nur: 63)
Inilah bukti Fakta bagaimana orang-orang Irsyadiyyun yang merasa dirinya sedang membela Al Haq, membela dakwah Salafiyyah dari rongrongan fikrah takfiri yang dibalut dengan hiasan “Salafi Sejati” ternyata menggunakan cara-cara hina dengan menempuh jejak para pendahulunya dari Majelis Ifta’ dan Tarjih Al Irsyad Al Islamiyyah yakni merendahkan dan menghinakan kehormatan dan kemuliaan para Shahabat, para ulama pewaris para nabi! Na’udzubillahi min dzalik. Semoga Allah membalas penghinaan ini dengan kehinaan yang setimpal, amin.

Selengkapnya…


Dua bingkisan berharga. Pertama, inilah bingkisan istimewa “La Khilafiyyah wa LaLaLa Ijtihadiyah” dari Ihya’ut Turots buat segenap Turotsiyyin dari Sabang sampai Sorbone, dari Merauke sampai Maroko dan dari Buton sampai Boston,tak lupa tentunya buat Firanda dan Direktur Ma’had Al Irsyad Surabaya serta Caldok Muhammad Arifin nun jauh di sono:
http://abdurrahman.wordpress.com/2008/02/16/akrabnya-dai-turotsiy-dengan-musuh-dakwah-salafiyyah/
http://abdurrahman.wordpress.com/2008/02/10/pujian-pembesar-ihya-kepada-tokoh-ikhwaniy/
Maka tunjukkanlah hujjah dan burhan kalian wahai para ustadz syaikh turotsi bahwa bukti-bukti ini adalah Khilafiyah Ijtihadiyah! Na’am, malu adalah sebagian dari iman, akan tetapi tidak semua orang memiliki rasa malu dengan tindakan dan pembelaannya yang sungguh sangat sangat memalukan! Tetapi, jangan umat yang dikorbankan dan dijadikan bahan permainan.

Bingkisan kedua, buat http://fakta.blogsome.com dan http://tukpencarialhaq.wordpress.com dari Mr X. Wallahu a’lam, dari bahasanya, kami percaya bahwa Mr X adalah “turis lokal” Indonesia (istilah gaulnya “Buchery/ Bule dicat sendiry). Berikut tulisannya:
Mr X Bro | cyber_x@yahoo.com | 167.205.22.105
Assalamu’alaikum…
Hai pemilik blog fakta, tukpencarialhaq, dasar BAJINGAN!!! Makin hari makin kurang ajar kalian!!! Blog kamu hanyalah blog fitnah sampah!!! Ana akan lacak keberadaan antum, mari kita bikin perhitungan!!!!!

2008/04/06 at 1:46 PM
Komentar: Wa’alaikumussalam. Anda memakai lokasi di ITB akh, tapi cuma proksi/topeng aja kan? Perjuangkan kebenaran dengan cara yang benar, jangan bertindak berani ancam pakai alamat rumah orang, kan kasihan ITB? Walhasil nama disembunyikan, lokasi disembunyikan. Mana ada fitnah dan sampah disertakan pula bukti faktanya? Ahsan tulis yang ilmiyah, silakan diadu dengan bukti dan hujjah yang kami tampilkan. Allahul Musta’an. Di pena pengunjung tuk pencarialhaq sudah banyak kok yang rujuk ilal haq setelah ditampilkannya langsung bukti-bukti yang kita miliki. Walhamdulillah.

ID Card Iblis dan Dakwah Aqlaniyah . Bagi anda sekalian yang menjadi karyawan atau pegawai tentu sudah menjadi hal yang “lumrah” jika di lehernya terkalung ID Card (kalau tidak dijepitkan di saku baju bagian atasnya). ID yang berisi identitas diri, nama, jabatan dan identitas penting lainnya yang kadang disertai pula foto sang pemilik. Tetapi kalau ID Card Iblis, pastikan bahwa di Qiblati anda akan menemukannya! ID Card bercorak aqlaniyyun yang aneh (dan menyesatkan!).  Iblis yang dinyatakan beragama kufur (kafir) ternyata punya istri di dunia ini! Siapa dia? Wanita yang berpakaian tetapi telanjang…. Benarkah? Tanpa kita memungkiri bahwa memang benar ada berita nubuwwah tentang wanita yang berpakaian tetapi telanjang, tetapi divonis bahwa wanita yang demikian adalah istri Iblis tentulah merupakan tuduhan yang sangat dahsyat yang wajib bagi penuduhnya (Qiblati) membawakan hujjah, baik dari Al Kitab ataupun dari As Sunnah! Dan tak lupa untuk semakin mengesankan jati diri Qiblati sebagai majalah yang memiliki “nilai yang lebih”, di sisi kiri atas monitor anda perhatikanlah gambar “Iblis” yang ditampilkannya, berbulu, dengan bulu-bulu kepala yang tegak (walau telah disamarkan terlebih dahulu dengan cara menghapus bagian matanya).
http://img291.imageshack.us/img291/681/idiblis01bb7.jpg
http://img181.imageshack.us/img181/1968/idiblis002jw7.jpg
Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Itu bukan gambar Iblis (sergah fanatikus Qiblati). Jika demikian, apa maksud Qiblati menampilkan gambar tersebut di pojok atas ID Card Iblis? Sebuah gambar iseng tanpa makna? Siapa sangka bahwa Qiblati juga menunjukkan “fakta mengejutkan” bahwa Iblis adalah direktur yang ternyata suka makan daging mayat! Dalilnya? Jangan anda bertanya ke Fakta tetapi tanyalah ke Syaikh Mamduh atau Agus Hasan, guru Abu Salma yang lihai dalam membantah para penyesat. Sekali lagi, Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Untuk mengingatkan kembali ingatan kita, simak lebih lengkap sepak terjang Agus Hasan dan Qiblati Al-Ikhwaninya di artikel-artikel:

Agus Hasan Qiblati Terperosok Helah Sendiri
Kejahatan Irsyadiyyun Terhadap Ulama Pewaris Para Nabi
Upaya Menghancurkan Kredibilitas Ulama
Dokumen) Data Rahasia Seputar Daurah Masyayikh – bagian kedua
Ketika Para Ulama Dijadikan Lelucon dan Tertawaan…

(walaupun sebenarnya rentetan bukti-bukti tersebut masih belum semuanya sempat kami tampilkan).
Maka pada kesempatan ini kami tampilkan bukti fakta jejak-jejak orisinil pertarungan antara barisan pendusta kelas kakap yang dikomandani langsung oleh spesialis mubahalah, bapak Abdurrahman Tamimi Al Kadzdzab (simak lagi sebagian bukti Al Kadzdzabnya di artikel:

Si Pendusta Besar, Nama Lengkap & Kunyahnya
(Dokumen) Data Rahasia Seputar Daurah Masyayikh )
melawan rekan seperjuangannya sendiri, komandan Qiblati Al Ikhwani, Agus Hasan Bashari yang telah dicapnya pula sebagai pendusta. Kami berharap tidak ada lagi yang su’udzan bahwa bukti-bukti selebaran perang saudara yang dipublikasikan adalah hasil pemberian Amerika atau agen-agen rahasianya karena selebaran semacam itu bisa didapatkan oleh siapapun, hatta oleh seorang pemulung. Allah telah memudahkan kita mendapatkannya tanpa operasi intelijen atau harus menjadi jebolan CTPAT produk Amerika dulu untuk mendapatkannya. Walhamdulillah.
Memang, serapat-rapat tupai menyimpan bangkai, akhirnya tak kuat juga hidung ini menahan bau menyengat dari bangkai hizbiyyah yang disimpannya sendiri. Apalagi artikel fakta sudah sejak lama “memperingatkan” bau hizbiyyah yang menyengat dari kandang Agus Hasan Bashari dan majalah Qiblatinya. Sampai kapan mampu menahan?
Kejadian terakhir tentu anda sekalian masih ingat adegan sopir ugal-ugalan yang mengebut kencang dengan berjalan zigzag membahayakan penumpang di dalamnya yang hampir menabrak petani dalam keadaan dishooting dan ditertawakan sepenuh perasaan (yang tak berperasaan) oleh rombongan mobil kru Qiblati di belakangnya yang disopiri langsung oleh Abu Salma.

Zakir Naik-Jum’iyyah Ahli Hadits India dan Dakwah Hizbiyyah Ikhwaniyyah
Tak ketinggalan, dr. Zakir Naikpun dielu-elukan sebagai pahlawan:
http://img297.imageshack.us/img297/180/qzakirahlusunahok7.jpg
Bagaimana pandangan “mufti CTPAT” terhadap dokter bedah dari India di atas? Senada dengan pujian Qiblati, Abu Salma menulis:
“Islamic Research Foundation (Yayasan Riset Islami) yang diketuai oleh DR. Zakir Naik, seorang ilmuwan Islam jenius, …” (Poligami Dihujat).
Di artikel lainnya, Abu Salma (menggunakan nama alias Abu Hudzaifah) menulis:
“Bagi para ikhwah yang tertarik dengan modern sains dan bantahan-bantahan terhadap saintis sekuler atau yang berideologi materialistis, saya lebih menyarankan untuk merujuk kepada tulisan-tulisan dan ceramah al-Ustadz DR. Zakir Naik al-Hindi, seorang ilmuwan muda India yang telah hafal al-Qur’an pada usia 10 tahun, dan sekarang menjadi presiden IRF (International Research Foundation) India. Beliau juga dekat dengan masyaikh jum’iyah Ahlul Hadits India, sehingga insya Allah dalam masalah aqidah, beliau jauh lebih salimah daripada ilmuwan muslim lainnya seperti Harun Yahya. Walaupun di dalam beberapa hal beliau juga melakukan kesalahan-kesalahan yang perlu mendapatkan perhatian tersendiri. Oleh karena itu, kami tidak mengambil perkara manhaj dari beliau (DR. Zakir Naik), namun di dalam perkara yang beliau berkompeten di dalamnya, maka tidak ada alasan bagi kami menolaknya.” (Beberapa Kesalahan Fatal di Buku Harun Yahya).
Perhatikanlah pernyataan paradoks (baca: bingung) di atas, pertama memuji kejeniusan Zakir Naik dan mengajak merujuk pada bantahan-bantahannya karena kedekatannya dengan masyayikh di Jum’iyah Ahlul Hadits India seraya mengakui kesaliman aqidahnya. Walau kemudian berbalik berlepas diri dari manhaj yang dianutnya. Seolah-olah dia ini sedang berperan sebagai seorang ulama mumpuni yang mampu untuk memilih dan memilah mana yang haq dan mana pula pemikiran yang batil. Subhanallah.

Walhasil, berikut beberapa fakta pembanding mengenai dr. Zakir Naik dan organisasi Jum’iyyah Ahli Hadits India, pahlawan kebanggaan Agus Hasan, Qiblati dan Abu Salma at-Tirnaty dan silakan pembaca sekalian yang menilai sendiri sejauh mana beda fakta yang nyata dengan bobot penisbatan mereka terhadap dakwah Salafiyah:
Setiap muslim harus menjadi teroris!! Kata Zakir Naik.
http://www.salafitalk.net/st/viewmessages.cfm?Forum=9&Topic=5928
Zakir naik is Jaahil!! Kata Syaikh Yahya Al Hajuri hafidhahullah:
http://www.salafitalk.net/st/viewmessages.cfm?Forum=9&Topic=5477
30 Pertanyaan Syaikh Yahya Al hajuri hafidhahullah kepada Zakir Naik:
http://www.salafitalk.net/st/viewmessages.cfm?Forum=9&Topic=5891
Zakir Naik: Allah, Brahma atau Wisnu (!!?)
http://www.salafitalk.net/st/viewmessages.cfm?Forum=8&Topic=4240
Zakir Naik: “SALAFI, how many salafees are there? QUTUBI (SALAFEES), SUROOREE (SALAFEES), MADHKHALEE (SALAFEES) (referring to Shaykh Rabee), I can take names”:
http://www.salafitalk.net/st/viewmessages.cfm?Forum=9&Topic=5611
Masih ingat dengan bukti “nongolnya” gembong besar Ikhwani Thariq Suwaidan di situs Al Sofwa Al Muntada Jakarta? http://img64.imageshack.us/img64/7177/sofwapromogembongsururife9.jpg

Sekarang lihatlah gembong ini ketika duduk bersama Zakir Naik:
http://www.salafitalk.net/st/viewmessages.cfm?Forum=14&Topic=1081
Al Qur’an adalah Kalamullah, tetapi di sisi jenius pahlawan Qiblati dan Abu Salma, Allah-lah yang telah memproduksi Al Qur’an!?
http://www.salafitalk.net/st/viewmessages.cfm?Forum=8&Topic=5149
Bukti Fakta Jam’iyah Ahli Hadits India Bermanhaj Ikhwani. Inilah bukti fakta kehizbian organisasi yang “direkomendasi” oleh Abu Salma:
http://www.salafitalk.net/st/viewmessages.cfm?Forum=9&Topic=4477
Demikianlah sebagian bukti fakta sisi lain Zakir Naik dan Jam’iyah Ahli Hadits India yang “luput” diterangkan Irsyadiyyun Abu Salma dan Qiblatiyun Agus Hasan Bashari.

Kemesraan itu….
Gembong sururi, Muhammad Shalih Al Munajjidpun[1] dipromosikan di majalah Qiblatinya dai lintas manhaj Agus Hasan Bashari (dia menggunakan nama alias: Abu Hamzah Ibnu Qamari) sebagai ulama yang terkemuka.
“Syaikh Muhammad shalih al-Munajjid seorang da’i yang telah terkenal mengatakan..”
Simak buktinya:
http://img175.imageshack.us/img175/1372/qmunajidro3.jpg
Begitu sayangnya Qiblati dengan gembong sururi di atas sehingga artikel lain diplublikasikan pula:
http://img174.imageshack.us/img174/6880/qiblatipromomunajid0xy2.jpg

Di lain waktu, ketika ada pertanyaan klarifikasi mengenai gembong Sururi ini yang dimuat di majalah sejawatnya sendiri, Al Furqan Gresik, maka bak gayung bersambut dengan bawahannya (Abu Hamzah), dengan penuh emosional mufti Qiblati (Syaikh Mamduh) mengeluarkan pembelaannya:
http://img297.imageshack.us/img297/3985/mamduhbelamunajid2ws8.jpg
“Dan kami memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk mengampuni anda atas kelancangan anda terhadap seorang ulama. Syaikh Munajjid adalah seorang alim yang utama. Beliau memiliki kesungguhan besar dalam dakwah. Seandainya anda mengikuti seluruh pengambilan dalil dalam fatwa-fatwanya maka anda akan senantiasa mendapati beliau mengambil pendapat Syaikh Bin Baz, Ibnu ‘Utsaimin, al-Albani, dan Haiah Kibaril Ulama…maka kami mengharuskan anda untuk menegakkan dalil….Kemudian kami berharap anda memberikan isyarat kepada kami satu penyimpangan saja dari makalah beliau dalam majalah ini…”
Bukan kami bermaksud membantu pembaca majalah hizbi Al Furqon Gresik yang menjadi kolaborator dakwah At-Turots http://img75.imageshack.us/img75/2407/alfurqonturatsisampuldpzs5.jpg
jika kami juga berkewajiban menegakkan hujjah (dengan bukti di atas) kepada Qiblati yang nyata-nyata membela gembong sururi ini!
Kita katakan kepada Syaikh Mamduh, Abu Hamzah Agus Hasan Bashari Ibnu Qamari dan segenap kru serta pembaca setia majalah Qiblati Al Ikhwani: “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un atas pengakuan kalian sebagai Ahlussunnah!”
Benar, jika tak tahu Fakta yang sebenarnya, bisa celaka jika terjebak mengidolakan mereka!

Dan sekarang simaklah aksi “kamikaze” ustadz Abdurrahman Tamimi dan cs-nya yang “lupa” menengok tengkuk sendiri (baca: tanpa rasa malu) dengan aksi mubahalah sebelumnya karena tidak terima “dituduh” oleh beberapa “anak ingusan” (dengan bukti-bukti tak terbantahkan) mempunyai hubungan dengan Al-Sofwa Jakarta dan At-Turots Kuwait (padahal telah datang bukti faktanya bagaimana dia mengundang wakil-wakil resmi Al-Sofwa dan At-Turots di acara daurah masyayikh yang diselenggarakannya). Bapak spesialis mubahalah ini akan menyuguhkan kepada kita fakta kesaksiannya mengenai pemikiran takfiri yang dimiliki oleh pemilik Qiblati, Syaikh Mamduh bin Farhan Al-Buhairi (walaupun juga pura-pura lupa diri bahwa panitia daurah masyaikh yang diselenggarakannya juga mengundang wakil-wakil resmi Teroris Takfiri dari Al Mukmin Ngruki dan Darusysyahadah Boyolali sebagaimana dokumen yang telah kita publikasikan). Duhai, inilah kisah pertarungan antara pendusta kelas kakap melawan pendusta lainya dan jangan coba-coba kita meniru sikap hizbiyyah tercela mereka. Dosa akan mengundang murka Allah.

http://img217.imageshack.us/img217/5150/sisilainustmamduh01gz6.jpg
http://img228.imageshack.us/img228/7163/sisilainustmamduh02ec6.jpg
http://img145.imageshack.us/img145/5079/sisilainustmamduh03ig1.jpg
http://img233.imageshack.us/img233/7153/sisilainustmamduh04lk1.jpg

Irsyadiyyun mencoba meluruskan kawan seperjuangan, Qiblati Al Ikhwani:
http://img88.imageshack.us/img88/3120/meluruskancatatansejaraqj1.jpg
http://img233.imageshack.us/img233/12/meluruskancatatansejaravs3.jpg
http://img229.imageshack.us/img229/2046/meluruskancatatansejaracx5.jpg

Demikian (untuk sementara ini) semoga dapat menjadi ibrah bagi kita sekalian bahwa kedustaan hizbiyyah hanyalah menunggu waktu kapan tesingkap kehinaannya. Seperti pepatah yang pernah dinukil, bisul hanyalah menunggu kapan waktu “meledaknya”. Saling tahdzir dan hajr mewarnai fenomena dakwah hizbiyyah mereka. Menggunting dalam lipatan, menggilas kawan seiring menjadi menu harian. Tetapi… kapan Firanda melanjutkan edisi kedua buku Fenomena tahdzir dan hajr sesama pendukung Ihya’ut Turots? Katanya sih mau Lerai Pertikaian, kok kawan sendiri yang sekarang justru bertikai.
Tidak usah heran dengan aksi saling menyikat dan menyikut sesama mereka, nggak ada salahnya jika kita membuka lagi artikel:

Syubuhat Irsyadiyyun dan Turatsiyyun…

Turatsiyyah-Surkatiyyah Sebagai Gerakan Kanibalisme

Menyaksikan fenomena “buku Firanda” di atas, kami jadi teringat dengan pidato heroik bapak Abdurrahman Tamimi sendiri ketika menceramahi para peserta muktamar Masyayikh Salafiyyin ke-1 di Markas Al-Albani, Yordania yang mengatakan:
“Sungguh mereka telah menjauhkan manusia dari dakwah Salafiyyah yang haq ini, akibat perangai mereka yang buruk dan dakwah mereka yang kasar lagi jelek. Tidaklah seorang menyelisihi mereka, sekalipun itu dari teman-teman mereka sendiri, melainkan mereka membid’ahkannya dan mengucilkannya dari pergaulan dengan mereka….
Akan tetapi segala puji bagi Allah, kekuatan mereka hancur berkeping-keping sehingga hilang dan lenyaplah kekuatan mereka. Tersingkaplah keburukan mereka, permusuhan diantara mereka sendiri sangat sengit, mereka bercerai-berai, dan ini adalah pelajaran bagi orang yang mau mengambil pelajaran. Sesungguhnya Allah tidak akan memperbaiki perbuatan orang-orang yang merusak.
Sekalipun mereka melakukan suatu perbuatan yang mereka inginkan untuk mengelabui manusia…dan sekalipun mereka merubah kulit-kulit (baju-baju) mereka untuk menjelekkan dan mengacaukan….dan sekalipun mereka membaguskan penampilan mereka, untuk menyembunyikan kejelekan mereka.
Semua itu –dan selainnya- sekali-kali tidak akan ada kelangsungannya atau perbaikannya, sekali-kali tidak akan berjalan bersamanya amal kebenaran yang jelas, justru ia akan hilang dan meleleh serta tidak akan kembali”
Apakah beliau sedang mempersiapkan autobiografi perjalanan dakwah hizbiyyah teman-temannya sendiri? Yang kita tahu, bapak Abdurrahman Tamimi termasuk jajaran pembesar yang merekomendasi Buku Emas Ihya’ut Turots dan tidakkah ada diantara kita yang merasa aneh dengan standar ganda beliau ketika menggugat pemikiran takfir orang (Mamduh) “yang tidak punya organisasi atau perkumpulan” sementara telinga kita sama sekali belum mendengar bantahan “dahsyat” beliau terhadap Nadim Al Misbahi, Presiden Ihya’ut Turots, serta Abdurrahman Abdul Khaliq yang juga memiliki pemikiran takfiri, menghalalkan sebagian yang haram, menghalalkan demonstrasi, dan lain-lain pemikiran hizbiyyah Ikhwaniyah Siyasiyah (sedahsyat bantahannya terhadap Mamduh dan Agus Hasan yang tidak punya organisasi/perkumpulan hizbiyyah). Ya tentu saja lain, dana Ihyaut’ Turots kan kelas kakap dibandingkan dana Qiblati yang kelas teri. Tokoh-tokoh Ihya’ juga tokoh-tokoh hizbi kelas kakap. Bedanya, kita belum mendapatkan bukti bahwa Mufti Masjidil Haram merekomendasi Ihya’ut Turots sebagaimana Qiblati berhasil menjadikan beliau sebagai penasehat majalah hebohnya. Bukankah ini khilafiyah ijtihadiyah? Kenapa bapak Abdurrahman Tamimi tidak mengindahkan kaidah-kaidah emas Firanda yang beliau rekomendasi sendiri dalam menyikapi khilafiyah ini? Sssst..siapa yang percaya kalau masalah Ihya’ adalah khilafiyah ijtihadiyah sebagaimana jika anda sekalian disodoro pertanyaan “Siapa orangnya yang percaya bahwa para masyayikh Salafiyyin membolehkan demonstrasi, berpolitik parlemen, mempersaudarakan Ahlussunnah dengan Rafidhah, bergandengan mesra dengan Ikhwanul Muslimin, menengadahkan tangan meminta bantuan Rafidhah, menjelek-jelekkan para pemimpin muslim di jazirah Arab dan lain-lain bukti yang dipegang oleh Salafiyyin Kuwait sebagaimana sebagiannya ditulis dalam artikel:

Salafiyyin Kuwait Bongkar kesesatan Ihya’ Turats

Mereka tidak merasa malu menghindar dari pembahasan bukti-bukti ilmiyah kesesatan dan kejahatan Ihya’ut Turots yang dipegang oleh Salafiyyin dengan berlindung di balik teriakan “Khilafiyyah ijtihadiyah” sebagaimana mereka tidak merasa malu ketika menghantam fikrah 2 orang (baca:gelintir) temannya sendiri dengan penuh keberanian dan keheroikan. Bukan bermaksud membela jika kita lontarkan pertanyaan menggelitik kepada Syaikh Ustadz Abdurrahman Tamimi beserta segenap kru “Salafi”nya: “Apakah kesesatan Ustadz Mamduh dan Agus Hasan Bashari jauh lebih dahsyat dan lebih berbahaya kepada umat daripada kejahatan Ihya’ut Turots wahai ustadz? Ataukah dana Ihya’ut Turots jauh lebih dahsyat daripada dana ustadz Mamduh wahai ustadz sehingga anda sekalian bersikap rifqan kepada Ihya’ut Turats? Sekali lagi, dari segi manhaj tidak ada yang membikin manusia-manusia yang kerdil hatinya jatuh hati kepada Ihyaut Turots, adapun dari segi dana? Mana tahan godaan dahsyatnya? Kalau dana Ihya’ tidak diambil oleh Ahlussunnah maka akan diambil oleh Ahlul bid’ah sehingga bid’ah semakin berkembang! Bukankah demikian helahmu wahai Firanda?

Firanda berkata: ”Yang tampak, kemudharatan-kemudharatan yang dikhawatirkan sa’at bermuamalah dengan yayasan tadi tidaklah terjadi, alhamdulillah. Bahkan sebaliknya justru kemaslahatan yang di dapat dengan mu’amalah dengan yayasan ini”. Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un!!
Syaikh Muqbil Rahimahullah berkata: Saya (Syaikh Muqbil) menganggap ia (Abdurrahman Abdul Khaliq-peny) memecah-belah barisan Ahlus Sunnah dengan membuat tipu daya melalui hartanya, tidak melalui pemikirannya. Ia bangkit dari Kuwait ke Indonesia (Abu Nida cs, red), Mesir dan beberapa negara lainnya. Saya berpendapat tidak benar menyerahkan dana kepada Yayasan Ihya’ut Turots karena mereka gencar memecah-belah dakwah Ahlus Sunnah sehingga Ahlus Sunnah di Jeddah dan Sudan terpecah.
Di Yaman banyak orang yang tertipu oleh kekayaannya bukan pemikirannya. Saya beritahukan kepada pemuda-pemuda Salaf Kuwait bahwa Yayasan Ihya’ut Turots memberikan dana yang menimbulkan bencana kepada orang-orang yang tertipu tersebut. Abdul Qadir Asy-Syaibani dan Muhammad Abdul Jalil saling bermusuhan gara-gara dana Ihya’ut Turots”
.( http://www.salafy.or.id/print.php?id_artikel=549 )
Sungguhpun Firanda telah berusaha keras untuk meyakinkan umat bahwa Ihya’ut Turots adalah yayasan Ahlus Sunnah sebagaimana nama-nama Kibar ulama yang disebutnya telah mentazkiyah yayasan tadi, tetapi tampaknya keraguan tentang status yayasan “Al-Khairiyyah” Ihya’ut Turots masih menyelimuti dirinya.
Firanda berkata:”Dana tersebut akhirnya tidak tersalurkan kepada ahli bid’ah. Jika dana ini tidak segera diambil dan dimanfaatkan oleh Ahlus Sunnah, sementara para dermawan terus menyalurkan kelebihan harta yang mereka miliki, bisa jadi akhirnya yang memanfaatkan dana tersebut adalah ahli bid’ah, sehingga bid’ahpun semakin berkembang” (Lerai…, hal.242)
Kita katakan:”Kenapa anda harus kuatir –wahai Firanda- bahwa yayasan ini –sebanyak apapun dana yang berhasil dihimpunnya- dari “kaum Mukminin-Muslimin” akan disalurkannya kepada ahli bid’ah sehingga bid’ah semakin merajelela?! Bukankah yayasan ini adalah “yayasan Ahlus Sunnah” yang banyak membantu Salafiyyin dan dakwah Salafiyyah sebagaimana kampanye yang sedang anda kibarkan?
Kenapa Yayasan Ahlus Sunnah ini harus berpikir untuk membantu dan menyerahkan dana mukmininnya kepada Ahlul Bid’ah sehingga bid’ah semakin merajalela?!
Sesungguhnya, ucapan anda ini jelas-jelas menunjukkan keragu-raguan anda terhadap Status Ahlus Sunnahnya Ihya’ut Turots sebagaimana yang anda gembar-gemborkan kepada umat! Jangan menipu nurani anda!! Allahul Musta’an.
Lalu apa artinya tulisan: ”Yang nampak, kemudharatan-kemudharatan yang dikhawatirkan saat bermu’amalah dengan yayasan tadi tidaklah terjadi, alhamdulillah” (Lerai…,hal.242)?! Kalau demikian kenyataannya, (lagi-lagi) kenapa anda harus kuatir bahwa yayasan ini akan menyalurkan dananya kepada Ahli Bid’ah?! Apakah hati nurani anda sendiri sebenarnya meragukan statemen yang anda tulis wahai Firanda? Ataukah anda tidak mampu menutup kenyataan bahwa yayasan Hizby ini selama ini memang benar-benar telah terbukti membantu Ahlul Bid’ah wal Hizbiyyah?! Apakah anda hendak meruntuhkan pernyataan anda sendiri ?! (Badai Fitnah Dakwah Ihya’ At Turots, Bab XXV, BUKU SYAHADAH MUHIMMAH
LERAI PERTIKAIAN ”MADE IN” KANTOR PUSAT IHYA’UT TUROTS KUWAIT ((Dilema Ihya’ut Turots, Antara Tuntutan Dana, Popularitas Diri & Upaya Mencari Sensasi)

Demikianlah, dibalik semangatmu untuk membela Ihya’ut Turots ternyata kalian sendiripun tidak yakin bahwa Ihya’ut Turots benar-benar yayasan yang tegak di atas dakwak salafiyyah. Aneh tetapi…inilah fakta dakwah luarbiasa yang di luar kebiasaan. Allahul Musta’an.

Ustadz, Kapan Giliran Melibas Kehizbian Abdullah Hadrami?
Tak kalah “vulgar”nya dengan ekspos aksi-aksi hizbiyah yang dilancarkan oleh Agus Hasan Bashari dengan Qiblatinya, demikian pula dengan aksi tak tahu malu orang yang berbangga-bangga mengaku sebagai murid Syaikh Utsaimin rahimahullah ini. Mempertontonkan jati diri Ikhwaninya ketika bedah buku di malang bersama tokoh-tokoh Ikhwanul Muslimin dan takfiriyyun dirasa kurang cukup, di situs pribadi miliknya dengan penuh percaya diri mempertontonkan aurat hizbiyyahnya! Merujuk begitu saja kepada artikel-artikel Al Muntada London cabang Indonesia (baca: Al Sofwa Al Muntada Jakarta) dan artikel-artikel organisasi Ikhwan dari Hidayatullah:
http://www.kajianislam.net/search.php?query=sofwa&andor=OR&mids%5B%5D=3&mids%5B%5D=5&mids%5B%5D=7&mids%5B%5D=8&submit=Search&action=results&id=c91d351dd2c66449dc0a6c02e0544a94
http://www.kajianislam.net/search.php?query=hidayatullah&action=results
Demi Allah, adalah berat bagi kami untuk menampilkan situs “kama hadza”. Hanya saja hujjah harus tegak bersama bukti hizbiyyah yang nyata! Sungguh sikap tercela yang sangat memalukan bahwa orang yang begitu bangganya mengaku sebagai murid Syaikh Utsaimin rahimahullah ternyata (untuk kesekian kalinya) tanpa rasa malu merujuk pada situs-situs hizbi yang tidak asing lagi permusuhannya terhadap dakwah Ahlussunnah!
Seorang mufti sebuah situs dengan rubrik “rakse dan softoh”:
http://www.sasak.net/modules/newbb/viewforum.php?forum=44
yang ternyata juga merujuk pada seorang gembong Ikhwanul Muslimin, Muhammad Sholeh Drehem!
http://www.sasak.net/search.php?query=drehem&action=results&mids%5B%5D=5
Benar-benar seorang gembong besar Ikhwanul Muslimin wahai Abdullah Hadrami!
http://72.14.235.104/search?q=cache:uzhDDNKkY8UJ:konsultasisyariah.net/index.php%3Foption%3Dcom_content%26task%3Dview%26id%3D51%26Itemid%3D56+drehem&hl=id&ct=clnk&cd=2&gl=id
http://72.14.235.104/search?q=cache:kbSZ_HoHexEJ:lmi-amilzakat.com/agenda.php+drehem&hl=id&ct=clnk&cd=3&gl=id
Seorang bendahara resmi partai Ikhwanul Muslimin wahai Abdullah!
http://72.14.235.104/search?q=cache:sr8mwe4_oqgJ:www.pksjatim.org/index.php%3Foption%3Dcom_content%26task%3Dview%26id%3D36%26Itemid%3D9+drehem&hl=id&ct=clnk&cd=7&gl=id
Ini adalah mushibah besar bagi dakwah bahwa seorang penyusup dari kalangan Ikhwanul Muslimin yang mengaku dengan bangganya sebagai murid Syaikh Utsaimin rahimahullah telah dielu-elukan dan ditokohkan sebagai dai Ahlussunnah!!
Perhatikan pula di dalam biografinya yang jujur mengakui bahwa secara rutin telah diundang oleh Al Irsyad Surabaya untuk hadir dalam daurah masyayikh yang mereka selenggarakan. Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Dan anehnya, Abdurrahman bin Thayyib begitu PDnya menuding Agus Hasan:
“Ataukah Qiblati ingin mengkolaborasikan antara salafi-ikhwani dan quthbi?!”
Lalu tindakanmu sendiri – wahai Irsyadiyyun –
http://img242.imageshack.us/img242/3249/khawarijalmukmindarusyact1.jpg
apakah kalian hendak mengkolaborasikan antara dai sururi-ikhwani, teroris-takfiri, quthbiyun dari Al Sofwa, dan salafi imitasi?! Allahu yahdik.
Gajah di pelupuk mata pura-pura tidak dilihat, kuman di seberang lautan diteropong dengan teleskop tembus pandang. La haula wa la quwwata illa billah.

Siapakah salah satu ulama yang diakui Abdullah Hadrami dengan bangga sebagai salah satu guru besarnya? Syaikh Salman bin Fahd Al Audah!! Yassalam!
http://img174.imageshack.us/img174/8932/salmanguruahcs0.jpg

Adapun guru Abdullah Hadrami dari gembong-gembong Ikhwanul Muslimin Indonesia? Dengan tanpa rasa malu dipublikasikannya sendiri:
http://img176.imageshack.us/img176/1220/tokohikhwanguruahjd6.jpg

Tak heran jika Abduh ZA Al Ikhwani begitu bersyukur dan berterima kasih bisa berkolaborasi dengan ustadz gaul Abdullah Hadrami dalam membantai Salafiyyin dan dakwah Salafiyah di kota Malang! Berikut ucapan terima kasih Abduh ZA kepadanya:
“Untuk pembicara dari kalangan ustadz Salafi, alhamdulillah pernah beberapa kali kesampaian, yakni ketika di Lampung bersama ustadz Anung Hamad, di Bekasi bersama ustadz Imtihan Syafi’i, dan di Malang bersama ustadz Abdullah Hadhrami hafidhahumullah wa jazahumullah khairal jaza’. Sekalipun para ustadz Salafi ini dianggap oleh kalangan Al Ustadz Luqman bukan sebagai Salafi versi mereka, namun sesungguhnya para ustadz yang pernah mendampingi kami ini Insya Allah adalah benar-benar salafi yang sebenarnya (hal.3, Ustadz Ikhwani Ajari Akhlaq, Pustaka Al Kautsar, cetk.1, Pebruari 2008).
Kenapa Abduh ZA harus berterima kasih kepada mereka? Karena orang semacam Abdullah Hadrami (yang mengaku sebagai salafi) ini juga bangga pernah berguru kepada Salman Al Audah. Mana ada salafi yang bangga dengan Salman kalau bukan imitasi macam Abdullah Hadrami? Na’am, kami sepakat dengan Abduh ZA bahwa dia memang benar-benar Ikhwani yang sebenarnya., sebagaimana Abdullah Hadrami sepakat dengan Abduh ZA bahwa Salman Al Audah memang benar-benar Ikhwani yang sebenarnya!
Jadi, kapan tuan Abdurrahman Tamimi dan rekan-rekannya “terpaksa” melibas saudara seperjuangan sendiri agar tidak dikatakan sebagai setan bisu?
Tetapi tentu untuk masalah Ihya’ut Turots tampaknya para pejuang dana dakwah lemah lembut (kepada Ihya’ut Turots) di atas masih tetap memilih kemaslahatan dana yang dahsyat untuk tetap menjadi setan bisu. Wallahu a’lam.
Kami hanya ingin mengajak para pembaca untuk “sedikit” bersikap bijak dan jernih menyikapi sikap bapak Abdurrahman Tamimi dan rekan-rekannya terhadap rekan-rekannya sendiri dari kelompok Qiblati. Kalaulah sekadar permasalahan bukti dialog antara pihak Irsyadiyun dengan pihak Qiblati dengan fikrah takfirinya saja Irsyadiyun sudah sedemikian “terpaksa” menjelaskannya kepada khalayak demi kebaikan Salafiyyin negeri ini agar tidak tertipu oleh setiap da’i yang tidak dikenal yang datang dari luar negeri (padahal belum ada bukti bahwa Mamduh telah menyebarluaskan pemikiran takfirinya ditambah lagi Mamduhpun mengingkari – terlepas apakah dia telah berdusta atau tidak – ucapan-ucapan takfirinya) maka tidak adakah para pembaca sekalian yang terusik fithrah akal sehatnya dengan sikap “setan bisu” mereka selama ini terhadap kesesatan dan kejahatan Ihya’ut Turots yang sangat dikenal kiprahnya dan diketahui oleh banyak orang yang terang-terangan diserukan dan disebarluaskan ke seluruh penjuru dunia oleh para pembesar-pembesarnya dan juga dipublikasikan di majalah mereka? Ihya’ut Turots secara terbuka memprovokasi kaum muslimin untuk berdemontrasi ke istana-istana penguasa muslimnya! Bom syahid bagi pelaku bom bunuh diri! Ihya’ut Turots menyebarkan pemikiran takfirinya secara terang-terangan! Ihya’ut Turots begitu lantang menyerukan persaudaraan antara Ahlussunnah dengan Rafidhah! Bergandengan tangan dengan ahlul bid’ah wal hizbiyyah! Maka, standar ganda sedahsyat apakah yang mampu membungkam Irsyadiyun-Irsyadiyun ini sehingga begitu menikmati status setan bisu Ihya’ut Turots selama ini?! Katakan dengan sejujurnya wahai tuan-tuan pejuang dakwah (baca:dana) bijak(ke)sana (Ihya’) tetapi tidak bijak(ke)sini (Qiblati). Apakah politik sabu-sabu yang sedang tuan-tuan terapkan? SA(tu pura-pura) BU(ta dan yang) SA(tunya lagi) BU(ka-bukaan)? Inikah keadilan? Engkau diam dari kebatilan “ikan Kakap” yang mendunia dan engkau lantang membongkar kebatilan si “ikan Teri” lokal? Benar-benar Qiblati termasuk kelas Teri jika dibandingkan kejahatan dan kesesatan Ihya’ut Turats yang disebarluaskan ke seluruh penjuru dunia! Dimana di suatu negeri ada dakwah Salafiyah, maka di situ pula Ihya’ut Turots mencari mangsa manusia-manusia kerdil yang haus akan kemaslahatan harta duniawi.
Barangsiapa yang belum merasa puas dengan bukti-bukti kejahatan dan kesesatan Ihya’ (yang tidak diingkari Ihya’ sebagaimana Syaikh Mamduh mengingkari pemikiran takfirinya) maka silakan download berjam-jam bukti tak terbantahkan yang dikumpulkan oleh Syaikh Khalid langsung dari Kuwait, negeri Ihya’ut Turots (dan semoga Firanda segera sadar bahwa dirinya dan segenap pembesar hizbi yang merekomendasi buku emas Ihya’nyalah yang selama ini meliciki fiqhul waqi’ kesesatan, kebobrokan dan kebatilan organisasi Ihya’ut Turots! Simak bukti-bukti fakta ini di: http://www.sahab.net/mydata/madani/altrath.zip

Alhamdulillah bahwa Allah Ta’ala masih melindungi kita semua sehingga tidak terprovokasi oleh jebakan Firanda untuk menuduh para ulama (yang memuji bangunan baru Ihya’, memuji maktabah Ihya’ yang menyebarkan kitab-kitab para ulama Ahlussunnah) berfatwa tidak sesuai realita, tidak tahu fiqhul waqi’ sebagaimana tuduhan hizbiyyin, karena pada dasarnya tidak ada yang merngingkari fatwa-fatwa tersebut. Kita sadar sesadar-sadarnya bahwa Ihya’ memang benar-benar mampu membangun gedung-gedung megah yang paling bagus sekalipun yang layak bagi kita untuk memuji keindahannya. Jejak-jejak dakwah fulusnya benar-benar fiqhul waqi’ yang nyata di negeri ini. Maka bagaimana mungkin kita mengingkari pujian terhadap gedung baru Ihya’ut Turots?!
Alhamdulillah, kitapun tidak tergiur oleh provokasi Abu Abdurrahman yang berupaya meyakinkan kepada pembaca risalahnya bahwa shahabiyyun jalil Amirul Mukminin Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu dan Amru bin Ash telah salah dalam berfatwa tentang Abdurrahman bin Muljam si pembunuh Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib (akan datang bukti penjelasannya bahwa Abu Abdurrahman sendirilah yang telah memelesetkan rekomendasi para shahabat, Syaikh Muqbil rahimahullah, Syaikh Rabi’ dan masyayikh lainnya hafidhahumullah agar tidak sesuai dengan fakta/kenyataan fatwa yang ada)! Akan lebih pas dan tepat jika dalil dan hujjah di dalam artikel Abu Abdurrahman yang berjudul: “Ada Apa dibalik pembelaan terhadap Syaikh Mamduh???” diarahkan kepada Ihya’ut Turots dan para pendukungnnya. Hanya saja fiqhul waqi’ mereka telah menunjukkan kepada kita bahwa keberanian mereka hanya menghadapi orang-orang sekelas Syaikh Mamduh, Agus Hasan Bashari dan Qiblati. Itupun dilakukan “dengan terpaksa”. Allahul Musta’an.
Lalu kapan sikap “terpaksa’ itu dapat berubah menjadi “kewajiban agama karena Allah” yang dilandasi oleh sikap Ikhlas karena Allah (dan bukan dengan terpaksa) untuk menjelaskan kejahatan si batil kelas Kakap agar umat selamat terhindar dari tipu daya harta dan kesesatan hizbiyahnya? Katanya ustadz Abdurrahman Tamimi di selebaran halaman kedua, “Ad-Din An-Nasehah”. Tentu kita sepakat bahwa belum ada bukti apapun atau persaksian siapapun yang membuktikan bahwa beliau telah memperingatkan kaum muslimin dari kejahatan Ihya’ut Turots. Bagaimana beliau memperingatkannya, lha wong (kata teman-teman di Jawa) perwakilan resmi Ihya’ut Turots malah diundangnya di acara dauroh Masyayikh yang diselenggarakannya! Bagaimana mungkin begitu PD-nya para Irsyadiyun itu menyebarkan artikel tahdzir terhadap pemikiran takfiri Syaikh Mamduh, lha wong (kata teman-teman di Jawa) Irsyadiyyun ini di daurah tahun 2004 (setelah terjadinya bom Bali) malah mengundang wakil-wakil resmi teroris takfiri dari Ngruki dan Darusysyahadah Boyolali?! Memang, malu adalah sebagian dari iman. Jika demikian, bukankah sikap beliau-beliau para ustadz kaliber nasional itu malah membikin malu temannya sendiri dari dai-dai kaliber nasional lainnya semacam ustadz Yazid Jawas dan Ahli Haduits Indonesia, Abdul Hakim Abdat? Sebelum membersihkan tengkuk temannya, ahsan membersihkan terlebih dahulu tengkuknya sendiri.
Na’am, akan selalu ada orang-orang yang ngiler dengan lambaian-lambaian harta. Nasib Abdullah Hadrami? Tinggal tunggu waktu layaknya Agus Hasan Bashari. Kalau tidak bisa lagi ditutup-tutupi noda-noda hizbiyyah yang belepotan di baju dan tubuhnya, tentulah “kita” harus tahu kemaslahatan diri, segera cuci tangan-tangan “kita” dan secepat itu pula melompat menaiki sekoci-sekoci penyelamat.
Yang “kasihan” justru produk CTPAT Amerika, Abu Salma tergencet di tengah-tengah karena terlanjur berbuih-buih meyakinkan para pembaca blognya bahwa mereka semua yang saling ber”smackdown”(olah raga bohong-bohongan, sandiwara sport yang juga produk Amerika, jauhkan anak-anak kita dari perilaku tercela dan berbahaya semacam ini) adalah guru-guru al-fadhilnya. Abdurrahman Tamimi yang dikatakannya dengan penuh kebanggaaan di dalam artikel “Guru dan Ustadz Saya”:

Ustadz yang mulia, ayahanda Abu ‘Auf Abdurrahman bin Abdul Karim at-Tamimi –semoga Alloh menjaganya-, direktur Ma’had Al-Irsyad as-Salafi Surabaya. Saya belajar di tangan beliau semenjak bertahun-tahun yang lalu di Masjid Al-Irsyad Surabaya.”
Penghina shahabat nabi dan para ulama yang disebutnya salah, meleset fatwanya, tidak sesuai dengan fakta/kenyataan yang ada:
“Saudara saya yang mulia, al-Ustadz Abu Abdirrahman Abdurrahman bin Thayib –semoga Alloh menjaganya-, staf pengajar Ma’had Al-Irsyad as-salafi Surabaya. Saya belajar kepada beliau sejumlah ilmu syar’i dan saya banyak sekali memetik faidah dari beliau. Dia bagaikan kakak bagi saya sekaligus ustadz.”
Dan tentu saja, ustadznya yang lain, si pendusta “baru”: “Ustadz yang mulia, Agus Hasan Bashori –semoga Alloh menjaganya-, seorang da’i yang giat dari Malang. Saya banyak mengambil manfaat dari beliau terutama dalam masalah bantahan-bantahan terhadap para penyeleweng.”
Allahul Musta’an.

Na’am, Abu Salma si gagah mubahalah harus tergencet di tengah-tengah bak makan buah simalakama, dimakan bapak mati, tidak dimakanpun bunda yang mati. Yang jelas, dia sudah telanjur berkoar-koar sedang berhadapan dengan “para pengangguran” dan sekarang harus menerima FAKTA fahit bahwa ustadznya (Agus Hasan Bashari) dan teman-temannya yang menjadi kru Qiblati benar-benar terancam menjadi “pengangguran sungguhan” jika majalah Qiblati tak lagi ada yang beli plus tak ada lagi orang yang sudi mengaji karena di”smackdown” oleh al-fadhil lainnya. Allahul musta’an.
Kalaulah Abdurrahman Tamimi dan Abdurrahman  bin Thayyib seorang pemberani yang sejati, tentulah bukan hanya kepada Qiblati mereka ini murka tetapi juga kepada sponsor nomor satu mereka menggugatnya. Tetapi mana berani tuan-tuan ini berbicara lantang kepada bos besar mereka sendiri dengan apartemen Ineznya. Bisa-bisa terjadi pengangguran massal di ma’had mereka. Siapa beliau ini yang berkomplot juga dengan LDATA Al Ikhwani? Sponsor utama dauroh masyayikh yang selama ini mereka selenggarakan! Klik saja bukti di bawah ini:
http://img174.imageshack.us/img174/6811/qiblaticholidldataikhwaiw2.jpg

Ahsan, daripada buang-buang energi tantang sana tantang sini untuk bermubahalah agar tampak keberanian dan kegagahannya, tentu akan jauh lebih bermanfaat bagi umat jika tuan-tuan itu mulai memupuk keberanian untuk menjelaskan secara jujur apa adanya berbagai bukti kejahatan besar yang disebarluaskan dan dipropagandakan oleh Ihya’ut Turots beserta segenap dedengkot hizbinya! Bukankah Ihya’ut Turots tidak mengingkari bukti-bukti fakta kejahatan mereka yang dikumpulkan oleh Salafiyyin? Masakan beraninya hanya melawan “penjahat hizbi” kelas Teri semacam Qiblati? Padahal mereka tahu bahwa mufti Masjidil Haram telah menjadi penasehat majalah Qiblati:
http://img175.imageshack.us/img175/357/qmuftimsjdharamyi8.jpg

Tidak bisa tidak, Firanda harus turun tangan membuka lembaran-lembaran buku emasnya dan bacakanlah kepada ustadz Abdurrahman Tamimi beserta segenap kru Al Irsyadnya:
“Ini mirip dengan cara hizbiyyin dalam menolak fatwa-fatwa para ulama Kibar dengan tuduhan mereka tidak mengetahui fiqhul waqi’, sehingga fatwa mereka mentah, tidak sesuai dengan kenyataan yang ada” (Lerai Pertikaian…, hal.225). Kanibalisme semangkin tidak terkendali.
Lalu dimana kaidah lemah lembut khilafiyah ijtihadiyah yang selama ini mereka teriakkan untuk menetralisir kejahatan Ihya’ut Turots? Ataukah kaidah khilafiyah ijtihadiyah hanya berlaku untuk orang-orang kaya dan organisasi-organisasi yang fulusnya menggunung wahai tuan-tuan?! Adapun majalah kelas Teri dan organisasi-organisasi miskin dan pas-pasan? Tiada ampun bagimu! Aduhai…

Na’udzubillah, Banyak rekomendasi para ulama (bahkan shahabat) terkadang meleset dari kenyataan/fakta yang ada
Talbisul Iblis? Dari jejak-jejak perang saudara ini, ada 3 lembar artikel yang ditulis oleh Abu Abdurrahman Abdurrahman bin Thayyib As Salafy dengan judul Ada apa di balik pembelaan terhadap Syaikh Mamduh???” Berikut bukti artikel tersebut:
http://img80.imageshack.us/img80/2109/adaapa1us8.jpg

Komentar:
Memang, ekor kambing tidak akan dapat menutupi pantatnya sendiri sebagaimana pula orang tentu bisa dengan mudah melihat tengkuk saudaranya, tetapi tidak akan bisa melihat tengkuknya sendiri.

Abu Abdurrahman Abdurrahman bin Thayyib menulis:
“Para ulama adalah pewaris para Nabi, mereka adalah rujukan umat dan hamba Allah yang paling takut kepada-Nya. Kedudukan mereka sangatlah tinggi di sisi Allah dan juga di mata manusia. Keutamaan mereka amatlah banyak di dalam Al-Qur’an maupun hadits Rasulullah…”

Komentar:
Sungguh uraian yang singkat, padat dan insya Allah sangat bermanfaat. Namun demikian, akan lebih bijaksana jika Abu Abdurrahman menasehati terlebih dahulu tengkuk-tengkuk Irsyadiyyun sebelum mengajari orang lain agar hormat pada para ulama! Seberapa tinggi kehormatan para ulama di sisi kalian?! ma’af saja jika kami harus mengingatkan kembali ingatan mereka di artikel:
Kejahatan Irsyadiyyun Terhadap Ulama Pewaris Para Nabi
Bukankah orang yang tidak punya tidak akan bisa memberi wahai Abu Abdurrahman?

Abu Abdurrahman Abdurrahman bin Thayyib menulis:
“Oleh karenanya, banyak contoh dari rekomendasi ulama yang terkadang meleset dari kenyataan, dikarenakan mereka tidak mengetahui apa yang disembunyikan dalam pemikiran maupun hati orang-orang tersebut.”

Selanjutnya Abu Abdurrahman menukil perkataan Syaikh Abdul Aziz Ar Rayyis:
“Pujian ulama terhadap seorang serta pemberian rekomendasi kepadanya tidak secara mutlak menunjukkan bahwa orang tersebut terpuji atau baik, terlebih lagi setelah berlalunya waktu. Atau juga jika orang tersebut memiliki kebaikan-kebaikan tidaklah mencegah (orang alim’dai) untuk membicarakan (kesalahan atau kesesatannya) dan sekaligus memperingatkan (umat) darinya, walaupun (ada orang yang beralasan) dia telah mendapatkan tazkiyah atau rekomendasi dari para ulama atau dengan alasan: Dia kan juga memiliki kebaikan-kebaikan atau jasa…”

Komentar:
Sampai di sini, tidak ada yang aneh dari isi pernyataan yang diucapkan oleh Syaikh Abdul Aziz Ar Rayis di atas, bahkan demikianlah salah satu manhaj Ahlussunnah “fi Naqdir Rijal” untuk membumihanguskan manhaj batil sesat “Muwazanah” yang dulu diterompetkan oleh kelompoknya Sururiyyin dan At-Turots semacam Syarif Hazza’ dan Yusuf Ba’isa (dan bandingkanlah penjelasan Syaikh Khalid tentang fitnah dan talbis yang disemburkan oleh Ihya’ut Turots di artikel http://tukpencarialhaq.wordpress.com/2007/07/18/awas-taring-taring-jum’iyyah-hizbiyyah-pemecah-belah-umat-2/ ketika beliau membantah Turotsi yang berdalih dengan rekomendasi para ulama, niscaya anda dapati penjelasan yang sama dengan penjelasan Syaikh Abdul Aziz Ar Rayis di atas).
Tentu Abu Abdurrahman tahu benar, di pihak mana mereka-mereka ini berada! Di pihak kita ataukah di pihaknya sendiri? Dan memang, bagaimana bisa seseorang melihat tengkuknya sendiri?! Itu yang pertama.
Kedua, adalah sikap yang sungguh sangat memalukan bahwa untuk menghadapi “pujian/rekomendasi para ulama” terhadap Syaikh Mamduh (yang menurut pihak Al Irsyad memiliki pemikiran takfiri HANYA dari hasil dialog dan bukan fikrah takfiri yang nyata-nyata disebarluaskan) serta pembelaan Agus Hasan terhadap majikannya, itupun telah membikin murka pihak Al Irsyad sehingga “dengan terpaksa mengetengahkan artikel tersebut, agar tidak termasuk orang yang diam dari kebatilan adalah setan bisu. Dan jangan sampai termasuk dalam firman Allah di QS. Al Baqarah:159.”
Di sisi lain, tidakkah anda sekalian menyaksikan “tengkuk mereka sendiri” yang begitu menikmati status setan bisu di sisi kesesatan dan kebatilan serta hizbiyyahnya Al Sofwa Al Muntada dan Ihya’ut Turots?! Kenapa hujjah-hujjah atau semisal pernyataan Syaikh Abdul Aziz Ar Rayyis hafidhahullah di atas mendadak mandul/tidak pernah terdengar mereka lontarkan dalam menyikapi Ihya’ut Turots? Syaikh Mamduh direkomendasi oleh beberapa ulama, hal mana sedikitpun tidak menghalangi mereka untuk melancarkan kritik terhadap pemikiran sesat Syaikh Mamduh dan Qiblati. Demikian pula rekomendasi terhadap Ihya’ut Turots.
Betapa memalukannya “fakta yang tidak meleset dan sesuai dengan kenyataan” ini bahwa pernyataan Syaikh Abdul Aziz Ar Rayyis tiba-tiba menjadi “kalimat sakti” untuk menghadapi penjahat hizbi kelas teri semacam Qiblati tetapi mereka mendadak berubah menjadi “setan bisu” bahkan siap mementahkannya jika ada yang berani menukil pernyataan beliau dengan ucapan-ucapan semisal “khilafiyah ijtihadiyah”, “bukan ulama kibar” dan lain-lain igauan jika dihujjahkan kepada penjahat hizbi kelas kakap yang mendunia semacam Al Sofwa Al Muntada dan Ihya’ut Turots dengan segenap kesesatannya yang secara terbuka dipropagandakan!? Semoga saja tidak ada diantara pembaca yang memahami (risalah Abu Abdurrahman) di atas dengan berkesimpulan bahwa majalah Qiblati (beserta pentolannya) jauh dan jauh lebih sesat daripada Ihya’ut Turots (beserta segenap dedengkotnya)!!

Tentu para pembaca risalahnya akan semakin penasaran, contoh rekomendasi seperti apa yang (katanya) banyak dan terkadang meleset dari fakta/kenyataan? Siapa pula ulama yang meleset fatwanya? Maka, sebagaimana ucapan: “Dengan contoh, akan menjadi jelas suatu permasalahan …”

Abu Abdurrahman melanjutkan nukilannya:
“Contoh yang paling menonjol (dalam hal ini) adalah orang Khawarij yang membunuh Ali bin Abi Thalib yaitu Abdurrahman bin Muljam al-Murodi. Orang ini telah mendapat pujian dari shahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Saya akan membacakan kepada anda ucapan Imam Adz-Dzahabi rahimahullah dan juga ucapan Ibnu Hajar rahimahullah tentang Abdurrahman bin Muljam.
Imam Adz-Dzahabi berkata dalam kitabnya al-Mizan[2]: “Dia adalah seorang ahli ibadah, taat kepada Allah, akan tetapi akhir hayatnya ditutup dengan kejelekan. Dialah yang membunuh Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalibradhiyallahu ‘anhu guna mendekatkan diri kepada Allah menurut prasangkanya, maka orang inipun dipotong kedua tangan dan kakinya serta lisannya, dan dicungkil kedua matanya lalu dibakar – semoga Allah menganugerahan kepada kita keselamatan dan kebaikan –“. Lihatlah, orang ini memiliki kebaikan akan tetapi ketika ia melakukan kejahatan (seperti di atas) maka tidak bisa dimaafkan dengan alasan: (diakan punya kebaikan!!)
Ibnu Hajar berkata[3]: “Diceritakan, bahwasanya ‘Amru bin Ash radhiyallahu ‘anhu meminta kepada Abdurrahman bin Muljam untuk selalu dekat dengannya karena dia termasuk ahli dalam al-Qur’an serta Fiqih dan dia termasuk pemberani diantara kaumnya di mesir. Dia juga pernah belajar kepada Mu’adz bin jabal radhiyallahu ‘anhu dan dia termasuk ahli ibadah”.
Walau begitu banyaknya kebaikan orang ini, tapi (semua itu) tidak bisa menutupi kesalahannya yang besar ketika membunuh Ali radhiyallahu ‘anhu.Kemudian Ibnu Hajar rahimahullah berkata setelah itu: “Diceritakan pula bahwa ‘Amru bin Ash radhiyallahu ‘anhu mengutus Shabigh bin ‘Asl kepada Umar untuk menanyakan kepada beliau tentang al-Qur’an dan – diceritakan – bahwa Umar memerintahkan ‘Amru bin Ash untuk menjadikan rumah Abdurrahman bin Muljam dekat dengan masjid supaya dapat mengajari manusia al-Qur’an dan Fiqih dan memerintahkan untuk memperluas rumahnya hingga hingga rumahnya berada di samping  Ibnu ‘Udaisy. Dialah pembunuh Ali bin Abi Thalib yang dulunya dia adalah pengikut setia beliau”.
Oleh karena itu perhatikanlah – wahai saudaraku -, jika ada orang yang membicarakan (kesesatan, pent) seseorang, serta memperingatkan (manusia) darinya lalu datang orang ketiga sambil berkata: “Kenapa anda mempersoalkan orang itu, padahal dia punya kebaikan-kebaikan dan dia telah diberi rekomendasi oleh para ulama?! Maka – ketahuilah – wahai saudaraku – , bahwa rekomendasi ataupun kebaikan yang dia miliki bukanlah jaminan ataupun pencegah dari membicarakan (kesesatannya) setelah berlalunya waktu. Sesungguhnya ukuran semua ini adalah kenyataan dan fakta yang ada, jika dia dalam keadaan jelek (sesat) maka berhak untuk dibicarakan sesuai dengan ketentuan syariat yang sudah dikenal oleh para ulama”[4]

Komentar:
Contoh (pujian ulama tidaklah mencegah kritik terhadap kesesatan orang yang dipuji) yang diberikan oleh Syaikh Abdul Aziz Ar Rayyis di atas, tentang pengakuan kebaikan/keshalihan Abdurrahman bin Muljam yang diakui oleh para shahabat semisal Amru bin Ash radhiyallahu ‘anhu, bahkan Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu adalah contoh yang sangat tepat yang sebenarnya tidak hanya berlaku untuk majalah Qiblati, Syaikh Mamduh dan bawahannya, Agus Hasan Bashari. Silakan pembaca sekalian melihat dengan hati yang jernih dan akal yang sehat, bukankah contoh yang dinukil oleh Abu Abdurrahman inipun merupakan pukulan yang cukup telak terhadap para dai senior seperti Muhammad Arifin, Firanda, Abdullah Taslim dan orang-orang yang merekomendasikan buku emas Ihya’ut Turots semacam Abdurrahman Tamimi? Lalu dimana “slogan sakti” Khilafiyah Ijtihadiyah yang mereka gembar-gemborkan? Mana dakwah Rifqannya ya ustadz? Sayang di sayang, keberanian Abdurrahman bin Thayyib hanya sebatas menghindar dari status setan bisu Syaikh Mamduh, Qiblati dan Agus Hasan. Abdurrahman bin Thayyib (yang sebenarnya memiliki potensi besar untuk menulis bantahan mantap terhadap buku emas Firanda) masih “malu-malu kucing” menasehati secara langsung kepada saudaranya sendiri dan kepada direkturnya (bapak Abdurrahman Tamimi). Karena itu, secara tidak langsung Abdurrahman bin Thayyib mengajari kita semua hujjah-hujjah untuk membungkam buku emas khilafiyahnya Firanda. Sejujurnya, kita berterimakasih kepadanya atas bantuan hujjahnya ini, jazakallahu khair.
Setelah ucapan terima kasih kita, maka ada hal yang sungguh sangat ngawur kalau tidak dikatakan (maaf) sangat bodoh (bagi seorang yang pernah mengenyam pendidikan di Universitas Islam Madinah) yakni tentang cara pengambilan dalil (contoh) yang ditempuh oleh Abdurrahman bin Thayyib dari kisah pengakuan para shahabat terhadap keshalihan Abdurrahman bin Muljam (sebelum pada akhirnya dia melakukan perbuatan yang sangat keji, membunuh Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu) yang digunakannya untuk memperkuat statemen yang dibuat sebelumnya bahwa: “banyak contoh dari rekomendasi ulama yang terkadang meleset dari kenyataan…”
Untuk menegaskan keyakinan “miring”nya di atas, Abdurrahman bin Thayyib bahkan mengulangi di halaman 2 dari risalahnya dengan menegaskan:
“Jika mereka para sahabat dan para ulama Ahlussunnah wal Jama’ah yang sudah amat dikenal kebaikan aqidah dan manhajnya terkadang salah dalam merekomendasi, apalagi para masyayikh yang sangat jauh keilmuannya dari mereka…”
Maka sungguh pernyataan-pernyataannya di atas adalah merupakan celaan besar terhadap shahabat Umar bin Khaththab radhiyallahu dan shahabat Amru bin Ash radhiyallahu ‘anhu yang “pernah” mengakui keshalihan Abdurrahman bin Muljam sebelum akhirnya dia mengakhiri hidupnya dengan perbuatan dosa yang teramat besar, membunuh Amirul Mukminin radhiyallahu ‘anhu (akan datang contoh yang mirip dengan hal ini yakni pujian para masyayikh Salafiyyin terhadap majalah Sururiyyun sebelum tersingkap kedok makar mereka).
Kalau engkau – wahai Abdurrahman bin Thayyib – mampu membuktikan bahwa pujian Amirul Mukminin Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu itu dikeluarkan setelah Abdurrahman bin Muljam membunuh Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu[5] maka masih “pantas” kiranya jika dirimu menganggap fatwa beliau meleset tidak sesuai dengan kenyataan atau fatwa beliau salah, tidak sesuai dengan fakta yang ada!
Kalau engkau – wahai Abdurrahman bin Thayyib – mampu mendatangkan bukti bahwa Amru bin Ash radhiyallahu ‘anhu memuji Abdurrahman bin Muljam setelah dia berstatus sebagai pembunuh Amirul Mukminin, maka masih “pantas” kiranya jika engkau menuding Amru bin Ash radhiyallahu ‘anhu mengeluarkan rekomendasi yang salah, fatwa yang tidak sesuai dengan fakta karena memuji seorang pembunuh! Maka sekarang juga tunjukkanlah burhanmu kalau engkau memang bukan seorang pendusta besar yang berani bersikap kurang ajar terhadap para shahabat Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam!
Ataukah engkau hendak menyejajarkan kedudukan fatwa para shahabat sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam seperti ketika beliau menyebutkan nama-nama para shahabat yang dijamin masuk surga (bahkan ketika shahabat-shahabat tersebut masih hidup)? La haula wa quwwata illa billah.
Ataukah engkau – wahai Abdurrahman bin Thayyib – menganggap bahwa pujian para shahabat terhadap seseorang (ketika itu) sebagaimana “fatwa” seorang peramal yang meramalkan bahwa orang tersebut juga akan mati secara terpuji? Maka ketika orang tersebut mati secara hina dan tercela, engkaupun menghukuminya sebagai fatwa (baca:ramalan) yang meleset dari kenyataan, salah, tidak sesuai dengan fakta yang ada?! Haihata, haihata…
Bagaimana mungkin rekomendasi/tazkiyah kebaikan dari para shahabat terhadap seseorang engkau artikan sebagai tazkiyah yang berlaku seumur hidup (seolah-olah para shahabat mengetahui nasib akhir kehidupan seseorang) untuk mendukung kesimpulan kejimu: “banyak contoh dari rekomendasi ulama yang terkadang meleset dari kenyataan” sementara kepada para shahabat itulah Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan ayatnya (artinya): “Dan janganlah kamu berdebat (untuk membela) orang-orang yang mengkhianati dirinya. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang selalu berkhianat lagi bergelimang dosa” (QS. An-Nisa’:107)? Akankan para shahabat mentazkiyah orang yang telah mengkhianati amanah dan kepercayaan yang telah diberikan kepadanya? Bahkan orang yang telah mengkhianati dan membunuh Amirul Mukminin, menantu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam? Sungguh para shahabat tidak akan pernah dan tidak akan memuji seorang pembunuh Amirul Mukminin!! Maaf saja kalau kami harus menyarankan agar dirimu (yang lulusan Madinah) agar membaca ulang definisi shahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana penjelasan para ulama Ahlussunnah dan bukan ulama-ulama Syi’ah-Rafidhah!!

Walhasil, bukan fatwa para shahabat yang meleset tidak sesuai dengan kenyataan, salah dan tidak sesuai dengan fakta yang ada, tetapi engkaulah – wahai Abdurrahman bin Thayyib – yang telah bersikap lancang, memelesetkan fatwa para shahabat sehingga tidak sesuai dengan kenyataan, salah dan tidak sesuai dengan fakta yang ada!! Allahu yahdik.
Apalagi, kalau pembaca perhatikan sekali lagi dari perkataan Syaikh Abdul Aziz Ar- Rayyis di artikel tersebut, ketika membawakan contoh Abdurrahman bin Muljam beliau sama sekali tidak menyinggung pembahasan tentang fatwa para ulama yang meleset, salah dan tidak sesuai dengan fakta. Hanya saja untuk menunjukkan dan “mengajari kita” lisanul hal (bahwa “walaupun orang-orang Ihya’ut Turots dan segenap pasukan pembelanya mengacung-acungkan khilafiyah ijtihadiyah dengan meneriakkan rekomendasi/pujian ulama kibar terhadap gedung baru Ihya’, terhadap maktabah Ihya’, pencetakan Al Qur’an, tetapi semua ini tidaklah menghalangi Ahlussunnah untuk terus berkewajiban mengungkapkan bukti-bukti kejahatan dan kesesatan Ihya’ut Turots!) bahwa para ulama kibar tidak akan mentazkiyah berbagai kesesatan dan kejahatan Ihya’ut Turots sebagaimana bukti-bukti yang telah kita pegang selama ini!! Wallahu a’lam, yakinlah bahwa Firanda dan kawan-kawannya akan lebih memilih menjadi setan bisu daripada meladeni tantangan (ilmiyah) kita untuk menunjukkan mana-mana dari daftar bukti kesesatan Ihya’ut Turots yang dihukumi sebagai khilafiyah ijtihadiyah di kalangan ulama kibar?! Demonstrasi? Kudeta? Persatuan Sunnah-Syi’ah? Bom bunuh diri? Bergandengan tangan dengan ahlul bid’ah? Memang, kelicikan berbanding lurus dengan dakwah hizbiyyah. [6]

Berikut halaman kedua dari jejak perang saudara antara Qiblati melawan Irsyadi:
http://img145.imageshack.us/img145/3424/adaapa2hd4.jpg

Abu Abdurrahman Abdurrahman bin Thayyib juga menulis:
“Dan diantara contoh lain dari rekomendasi para ulama yang terkadang meleset dari fakta yang ada adalah rekomendasi Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i rahimahullah terhadap Ja’far Umar Thalib, ketika beliau ditanya: Apa nasehat anda kepada Ahlussunnah Salafiyyin di Indonesia, semoga Allah membalas anda dengan kebaikan.Beliau berkata:”Yang aku nasehatkan adalah agar mereka tekun dalam mempelajari Al-Qur’an dan Sunnah, serta mengambil manfaat dari saudara kita yang mulia Ja’far – hafizhahullah – yang Allah memberikan manfaat (umat) dengannya dalam waktu yang singkat, maka wajib bagi mereka untuk bekerjasama dengannya…”
“Demikian pula apa yang dulu pernah kami dengar langsung dari Syaikh Rabi’ bin Hadi Al Madkhali – hafizhahullah – tentang kesalafiyahan Ja’far Umar Thalib dan juga masyayikh yang lainnya. Namun, apakah artinya rekomendasi tersebut jika kenyataannya dia banyak menyimpang dari jalan salafush shaleh, baik ketika masih menjabat sebagai panglima laskar jihad atau setelahnya?!”

Komentar:
Kelicikan di atas kelicikan.
Ini adalah komentar yang sangat spesial, karena kami akan menyorongkan isi buku Emas Ihya’ut Turots yang ditulis oleh da’i senior Firanda As Sorongji. Betapa tidak, karena buku tersebut adalah buku “pamungkas” yang dielu-elukan oleh segenap Turotsi dan simpatisannya dus apalagi direkomendasi oleh Syaikh Al Kadzdzab Abdurrahman Tamimi hadanallahu wa iyyah. Firanda menulis (baca:membantah) “pelecehan” Abdurrahman bin Thayyib di atas:
“Mungkinkah para ulama (kibar) mengeluarkan pernyataan tanpa ilmu dan tanpa mengetahui realita?! Bukankah ini termasuk mengikuti hawa nafsu?”(Lerai…, hal.225-226).
“Ini mirip dengan cara hizbiyyin dalam menolak fatwa-fatwa para ulama Kibar dengan tuduhan mereka tidak mengetahui fiqhul waqi’, sehingga fatwa mereka mentah, tidak sesuai dengan kenyataan yang ada” (ibid, hal.225).
”Pernyataan ini secara tidak langsung menuduh bahwa para ulama kibar tidak mengetahui fiqhul waqi’ dan tidak tahu medan dakwah..” (ibid, hal.224).
Kami tidak tahu lagi, kanibalisme hizbiyyah model apa lagi yang sedang dipertontonkan kepada kita sekalian? Ataukah Abdurrahman bin Thayyib sedang menunjukkan keberaniannya melawan bapak Abdurrahman Tamimi yang notabene telah secara sah dan meyakinkan merekomendasi buku emas Ihya’ut Turotsnya Firanda?
Yang pasti dan yang pasti, pernyataan Abdurrahman bin Thayyib memang sangat ambisius, emosional dan tendensius karena tidak bersikap husnudzan terlebih dahulu dengan fatwa para ulama sebagaimana sikap ihtiram Salafiyyin ketika Abdurrahman bin Thayyib menyatakan bahwa: “Banyak contoh dari rekomendasi ulama yang terkadang meleset dari kenyataan” atau pernyataan lainnya: “rekomendasi para ulama yang terkadang meleset dari fakta yang ada”. Benar bahwa para ulama bukanlah orang yang ma’shum (terjaga dari kesalahan), tetapi semestinya baik sangka Abdurrahman bin Thayyib yang harus didahulukan daripada tonjolan sikap buruk sangka seperti di atas! Pernyataan yang sangat umum ini tidaklah pantas ditulis oleh orang yang mengaku sebagai seorang salafi apalagi seorang da’i salafi kecuali dia benar-benar secara spesifik dan rinci menunjukkan fatwa yang dimaksud dan ulama yang meleset fatwanya, tidak sesuai dengan kenyataan sehingga pernyataannya tersebut tidak dapat dibiaskan kepada para ulama lainnya apalagi dia menyebutkan secara terang-terangan “banyak contoh dari rekomendasi ulama yang terkadang meleset dari kenyataan”.

Adapun contoh riil fatwa rekomendasi terhadap Ja’far Umar Thalib dari Syaikh Muqbil rahimahullah, Syaikh Rabi dan masyaikh lainnya hafidhahumullah yang engkau sebut (wahai Abdurrahman bin Thayyib) telah meleset dari fakta yang ada maka hal yang bisa kami komentari adalah:
Ittaqillah wahai Abu Abdurrahman! Sungguh ucapanmu adalah penghinaan terhadap Syaikh Muqbil, Syaikh Rabi’ dan Masyayikh lainnya yang tidak engkau sebutkan namanya! Sungguh dan sungguh ucapan celaanmu mengandung talbis dan tadlis dan hal ini tidaklah samar bagi mereka yang sedikit saja bersikap cermat dalam membaca tulisanmu! Apakah engkau hendak mempermainkan akal-akal kaum muslimin dengan gaya kelicikanmu dan pelecehanmu terhadap masyayikh?
Sebagaimana persis dengan cara-cara licik yang engkau tempuh ketika menyikapi fatwa para shahabat, engkaupun juga memvonis bahwa fatwa ulama terhadap Ja’far Umar Thalib telah meleset dari fakta yang ada sementara engkau tidak secara jujur menjelaskan, kapan fatwa tersebut dikeluarkan? Apakah setelah Ja’far Umar Thalib bersama Laskar Jihadnya melakukan berbagai penyimpangan-penyimpangan?!! Ataukah fatwa itu muncul sebelum lahirnya laskar jihad?! Tentu ini adalah keadaan yang sangat berbeda!
Inilah bukti kelicikanmu lainnya ketika engkau menulis: “..baik ketika masih menjabat sebagai panglima laskar jihad atau setelahnya”. Apakah hal ini merupakan “pengakuan sirr”mu bahwa engkau tidak bisa menunjukkan bukti “kenyataan dia banyak menyimpang dari jalan salafush shaleh” sebelum munculnya laskar jihad? Sehingga untuk “menguatkan” statemen penghinaanmu terhadap banyak fatwa para ulama yang salah, meleset dari fakta yang ada maka engkaupun menempuh jalannya manusia-manusia lacur yang tidak memiliki rasa malu dan kehormatan diri sehingga engkaupun memelesetkan fatwa para ulama itu dari fakta yang ada seolah-olah dikeluarkan pasca munculnya penyimpangan-penyimpangan laskar jihad dan pasca dibubarkannya laskar jihad?!! Bahkan ketika Syaikh memerintahkan agar laskar jihad dibubarkan dan Jamarto enggan membubarkannya, tahukah dirimu – wahai Abu Abdurrahman – bahwa segenap Salafiyyin – walhamdulillah – KULLUHUM, semuanya meninggalkan Jamarto tanpa ada yang menyuruhnya!! Bukankah ini barakah dari dakwah wahai Abdurrahman? Tanpa engkau harus bersusah payah membikin dauroh-dauroh yang menjelaskan kesesatan jamarto, membikin selebaran atau artikel tahdzir terhadap kesesatan saudaramu, dengan hidayah dan kemudahan dari Allah semuanya otomatis menjauhkan diri dari sumber fitnah dan kesesatan itu!! Sayang di sayang, sekian tahun Qiblati berkomplot dengan Ikhwanul Muslimin Taruna Al Qur’an di Jogja kalian diam menjadi setan bisu, bahkan kalian pun ternyata sedari awal tahu benar fikrah takfiri dari pemilik Qiblati dan kalianpun diam menjadi setan bisu. Tetapi setelah gencar pertanyaan dari sana dan dari sini karena hidayah Allah melalui bukti-bukti kejahatan Qiblati yang diungkapkan oleh orang-orang yang kalian cap sebagai “anak ingusan” maka kalianpun “terpaksa” tidak ingin dicap sebagai setan bisu? Duhai, “terpaksa” wahai Abu Abdurrahman untuk menyingkap kesesatan?!
Jangan engkau berani berdusta dan bersikap licik wahai Abu Abdurrahman! Apakah engkau sedang menggiring pembaca agar memahami bahwa walaupun Ja’far Umar Thalib dan LJ telah melakukan berbagai penyimpangan toh masyayikh tetap mengeluarkan rekomendasi agar salafiyin bekerjasama dengannya sebagaimana jalan hina yang juga ditempuh oleh Firanda ketika membela Ihya’ut Turots?! Tidak, dengan perlindungan Allah Ta’la, engkau tidak akan bisa menanamkan virus su’udzanmu terhadap para ulama agar kita meyakini ucapanmu yang engkau pelesetkan dari fakta yang ada sehingga tidak sesuai dengan kenyataan!! Haihata, haihata menara kekejian apalagi yang sedang engkau tegakkan?
Hal yang paling ringkas dan sederhana, tunjukkan kapan fatwa tersebut dikeluarkan agar tersingkap betis-betis hizbiyyah yang selama ini engkau sembunyikan dari pandangan umat! Jadi, siapa sesungguhnya yang telah bersikap lancang dengan menuduh fatwa para ulama meleset dan tidak tahu fiqhul waqi’ wahai Firanda? Jawablah dengan penuh kemantapan yang sempurna: “Teman-teman dai senior hizbiyyahku sendiri!”
Sungguh kami tidak sabar lagi untuk membaca edisi kedua buku Emas Ihya’ Firanda yang langsung berkisah tentang contoh-contoh waqi’ orang-orang yang begitu lancang menuduh para ulama tidak tahu fiqhul waqi’. Sekadar usulan untuk buku emas Ihya’ edisi keduamu, berilah judul yang singkat, tepat dan mantap, apa? Fenomena Saling Sikat dan Sikut Sesama Saudara Soronji Sendiri (FS7).
Duhai, belum lagi buku bantahan terhadap buku emas Firanda diterbitkan, ternyata buku emas itu “sudah dicabik-cabik” terlebih dahulu oleh teman seperjuangnya sendiri. Ini mirip dengan cara-cara hizbbiyyin…Sungguh Allah Maha Pembuat Makar.

Dan yang lebih memprihatikan lagi, simak bukti halaman 3 di bawah ini:
http://img221.imageshack.us/img221/9327/adaapa3rd5.jpg

Abu Abdurrahman menulis:
“Kemudian yang paling lucu dari tazkiyah para masyayikh terhadap majalah Qiblati adalah bagaimana majalah yang berbahasa Indonesia bisa dipahami oleh mereka yang tidak paham bahasa Indonesia…”

Komentar:
Sungguh komentar di atas bukanlah komentar yang lucu yang dengannya kita pantas untuk menertawakannya. Ulama bukanlah pelawak yang tuturkatanya (baca:fatwanya) pantas untuk dilucu-lucukan dan ditertawakan wahai Abdurrahman! Demikiankah caramu mengajari kita untuk menghormati para ulama? Sepantasnya bagi kita untuk berprihatin menyikapinya, bagaimana sebuah majalah Ikhwani (dan Abdurrahman Thayyib sama sekali tidak menyinggung bahwa Qiblati Malang hanyalah metamorfosis dari Qiblati Al Ikhwani Jojga pimpinan Umar Budhihargo) sampai bisa mendapatkan rekomendasi dari ulama (sebagaimana begitu liciknya Ihya’ut Turots mengejar rekomendasi para ulama dengan menempuh cara-cara hina, menyodorkan manhaj tertulis dengan menyembunyikan rapat-rapat kesesatan dan kehizbiyyahannya) sebagaimana keprihatinan kita bahwa orang-orang in-telek semacam Firanda tega-teganya “mengelabui” umat Islam dengan membawa fatwa pujian terhadap gedung baru Ihya’ut Turots yang disulapnya menjadi “tazkiyah/rekomendasi” terhadap Ihya’ut Turots. Di sinilah justru letak “kekuatan” buku Firanda, menyebutkan nama-nama para ulama yang diklaimnya telah merekomendasi Ihya’ut Turots, tetapi anehnya isi fatwa-fatwa itu sendiri tidak dicantumkannya! Semoga masih tersisa orang-orang yang menghargai kejujuran menyaksikan keanehan dahsyat ini. Semoga…

Hal yang sangat memprihatinkan dari akhlaq orang semacam Abdurrahman bin Thayyib ini, di awal-awal tulisannya berusaha meyakinkan semua pembaca tulisannya agar kita semua menghormati para ulama karena kedudukan mulia mereka di sisi Allah dan Rasul-Nya sebagai pewaris ilmu para Nabi. Dan masih di tema tulisan yang sama justru dia berupaya pula untuk meyakinkan para pembaca bahwa banyak fatwa para ulama yang meleset dari fakta yang ada, tidak sesuai dengan kenyataan!! Diperjelas lagi dengan tulisannya: “Jika mereka para sahabat dan para ulama Ahlussunnah wal Jama’ah yang sudah amat dikenal kebaikan aqidah dan manhajnya terkadang salah dalam merekomendasi, apalagi para masyayikh yang sangat jauh keilmuannya dari mereka…”
Bagaimana mungkin Abdurrahman Bin Thayyib bisa meyakinkan pembacanya agar memuliakan para ulama pewaris para Nabi sementara fatwa Hizbul Irsyad sendiri benar-benar terbukti melecehkan dan menghinakan kekdudukan para ulama pewaris para nabi dan mereka sampai saat ini masih tetap menikmati status setan bisunya?!
Bagaimana mungkin Abdurrahman bin Thayyib berhasil meyakinkan pembacanya untuk ihtiram kepada para ulama sementara dia sendiri justru mengajarkan cara menghina, menyalahkan dan mencela para shahabat dan para ulama Ahlussunnah?!

Subhanallah, sejalan dengan kelicikanmu – wahai Abdurrahman bin Thayyib – betapa ngototnya Firanda dalam meyakinkan umat (dengan rekomendasi para ulama terhadap Ihya’ut Turots yang disebutkannya) bahwa para ulama tersebut benar-benar merekomendasi Ihya’ut Turots dalam keadaan mengetahui seutuhnya (termasuk hakekat kesesatan) Ihya’ut Turots yang terkenal kiprahnya dan diketahui oleh banyak orang!! Padahal umat tetap berbaik sangka bahwa fatwa tersebut keluar karena sisi-sisi hizbiyyah kesesatan yang memang sengaja disembunyikan oleh Ihya’ut Turots dari pandangan para ulama! Ihya’ut Turots telah berlaku curang dan dusta! Tidak memberikan informasi dan gambaran sepak terjangnya yang sebenarnya! Ihya’ hanya menyodorkan manhaj tertulis dan tidak mungkin Ihya’ akan jujur menuliskan bahwa mereka mengajak persatuan Sunnah-Syi’ah, bekerjasama dengan Ikhwanul Muslimin dan lain-lain kesesatan yang berkali-kali diulang dalam artikel-artikel di website ini.
Engkau – wahai Firanda – tentu tahu kenapa Ihya’ tidak menyodorkan manhaj-manhaj sesat tersebut ke hadapan para ulama bukan?! Karena tujuan Ihya’ adalah mengejar rekomendasi masyayikh dan Ihya’ tahu bahwa para ulama tidak akan mungkin merekomendasi jika berbagai kesesatan hizbiyah tersebut disodorkan!! Abadan! Maka inilah sikap husnudzan yang memang harus ditempuh oleh orang yang benar-benar cinta kepada pewaris para Nabi! Adapun sikap hizbiyyin dan da’i-da’i imitasi semacam kalian?

Sebagai penutup, inilah Syaikh Muqbil rahimahullah yang mengajari agar kita berakhlaqul karimah terhadap para ulama terkait fatwa-fatwa mereka (agar kita tidak termakan virus hizbiyyah dan provokasi su’udzan dari dai-dai imitasi meleset semacam Abdurrahman Thayyib dan teman-temannya yang ternyata tulisan-tulisannya meleset tidak sesuai fakta yang sebenarnya):

Pertanyaan:
Terdapat suatu perkumpulan di antara kita (di Inggris) bernama Al-Markaz Al-Islamiyyah Al-Muntada. Mereka mempunyai hubungan dengan Muhammad Surur dan juga menjual buku-buku karangannya serta berinteraksi dengannya. Mereka juga mendapat rekomendasi dari Syaikh Abdul Aziz bin Bazz dan Syaikh Utsaimin yang menyatakan dukungan untuk mengadakan kerjasama dan berhubungan dengan mereka. Jadi apa nasehat Syaikh terhadap Al-Muntada dan
juga nasehat kepada Salafiyyin yang bekerjasama dan bekerja dengan mereka dalam dakwah?

Jawaban:
Nasehatku untuk mereka adalah supaya kembali kepada kondisi mereka ketika dahulu mendakwahkan Al-Qur’an dan As-Sunnah di dalam majalah mereka “Al-Bayan” dan “As-Sunnah”. Kita dahulu sangat menyukai kedua majalah tersebut. Tetapi kemudian realitas menjadi jelas bahwa mereka kenyataannya adalah Hizb yang menjauhkan kaum Muslimin dari para ulama Salaf. Dan aku menasehati mereka supaya tidak berselisih dengan para penguasa Muslim. Mereka ini telah menyebabkan perpecahan di dalam tubuh Ahlus Sunnah di Yaman, Haramain, Najd, Sudan, Mesir dan banyak negara muslim lainnya.
Mereka mengajak manusia untuk tidak peduli terhadap ilmu dien ini. Mereka dulunya adalah sekelompok pelajar yang belajar kepada kita, kemudian mereka bergabung dengan orang-orang Hizbiyyah. Sejak saat itu mereka mulai menghina Ikhwan Salafiyyin lainnya dan juga kepada kita…..
Jadi saya katakan: “Jika Syaikh Bin Bazz dan Syaikh Bin Utsaimin telah memberikan tazkiyah (rekomendasi) kepada Al-Muntada sebelum terjadinya krisis Teluk, maka kedua Syaikh ini tidak bisa disalahkan karena kita juga ketika itu memuji majalah Al-Bayan dan menghimbau Muslimin untuk bekerjasama dengan mereka.
Tapi jika mereka (kedua Syaikh) memberikan tazkiyah tersebut sesudah terjadinya krisis Teluk (saya berpikir hal itu tidak mungkin terjadi)[7] maka kedua Syaikh ini telah melakukan kesalahan[8]. Sehingga saya akan mengatakan kepada kedua Syaikh ini: “Orang-orang ini telah memecah belah kaum Muslimin di sisi di Yaman, dan mereka telah berubah menyerang dan
menunjukkan sikap permusuhan terhadap AhlusSunnah”“Jadi jika kedua Syaikh tersebut memberikan tazkiyah (rekomendasi), maka mereka harus menarik kembali tazkiyahnya, seperti yang saya lakukan ketika permusuhan mereka kepada saya menjadi jelas dan terbukti selama krisis Teluk dan juga di Yaman[9] …..Jadi saya katakan kepada para Masyayikh untuk menarik kembali pernyataan tazkiyah, seperti yang Allah Ta’ala sebutkan dalam Al-Qur’an (artinya):
“Dan janganlah kamu berdebat (untuk membela) orang-orang yang mengkhianati dirinya. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang selalu berkhianat lagi bergelimang dosa”(QS. An-Nisa’:107)
Dan firman Allah (artinya):
”Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang menganggap dirinya bersih. Sebenarnya Allah membersihkan siapa yang dikehendakiNya dan mereka tidak dianiaya sedikitpun.” (QS. An-Nisa.:49)
Para Hizbiyyun ini menggunakan tazkiyah tersebut dengan tujuan untuk menipu manusia, sehingga tidak dibenarkan penggunaan tazkiyah semacam ini,…”
(Lebih lengkap lihat: Tuhfatul Mujeeb ‘an As’ilat-il-Haadir wal-Ghareeb, hal 143-147).
Na’am, inilah fakta dari rencana licik mereka yang sebelumnya dipendam dengan baik, dalam rangka menjauhkan umat dari para ulama! So, bukan fatwa para shahabat dan ulama Ahlussunnah yang meleset tidak sesuai dengan fakta kenyataan yang ada sebagaimana tudingan hina Abu Abdurrahman, tetapi tulisan-tulisan da’i-da’i hizbi semacam Firanda, Abdurrahman Tamimi, Agus Hasan Bashari, Abdurrahman bin Thayyiblah yang meleset dari fakta yang ada, pura-pura tidak tahu fiqhul waqi’ kesesatan di depan mata! Kami tahu bahwa anda sekalian – wahai ustadz – tidak terlibat sabu-sabu (SAtu BUta, SAtu BUram) tetapi hanyalah sekelompok “kura-kura” dalam satu perahu yang saling ber”smackdown”, pura-pura tidak tahu, tipu-menipu bukan lagi hal yang tabu. Tetapi kalau tidak bisa lagi ditutup-tutupi? Tentu harus mengambil langkah cerdas untuk mencuci tangan menyelamatkan diri biar tidak belepotan dengan lumpur hizbiyyah teman sendiri. Nasib Abdullah Hadrami? Benarkah berita yang beredar bahwa lebih mudah bagi Irsyadiyyun untuk menjarh Qiblati dan “Aal Qamari” daripada menjarh “Aal Hadrami”? Dari Malang terlayang tambahan bukti kepada kita sekalian akan promosi buku Muhammad Sholeh Al Munajjid dan kemesraan ini:  http://img141.imageshack.us/img141/5665/ahadromilovemunajjidxr7.jpg
Ternyata Abdullah Hadrami tidak kalah parahnya daripada temannya dari Qiblati, Agus Hasan Bashari. Apakah nasib dua orang dari Aal Qamari dengan Aal Hadrami akan berbeda? Inna lillahi wa inna ilaihi raaji’un. Wallahu a’lam.

Footnote:
[1] Di dalam artikel perang saudara antara Irsyadiyyun dengan Qiblatiyyun juga dicontohkan tentang sosok Takfiri Aman Abdurrahman yang sekarang mendekam di LP Sukamiskin, hanya saja Irsyadiyyun “lupa” untuk menjelaskan “lebih jelas” jabatannya ketika itu yakni sebagai Imam Masjid Al Sofwa Jakarta (lihat lagi di artikel Badai Fitnah Dakwah Ihya’ut Turots di Indonesia). Adapun masalah gembong hizbi Thariq Suwaidan dan Muhammad Shalih Al Munajjid, maka hal ini telah lama disinggung di artikel “Badai Fitnah Dakwah Ihya’ut Turots di Indonesia” ketika mengungkap jati diri Al Sofwa dan para pendukung dakwahnya, berikut nukilannya:
“…Maka dengarkan lagi isi Mubahalah Abdurrahman Tamimi yang mengharukan:
“:”…MEREKA TELAH MENGATAKAN TENTANG KAMI DAN TENTANG MA’HAD KAMI BAHWASANYA KAMI MEMPUNYAI HUBUNGAN DENGAN YAYASAN AL-SOFWAH DI JAKARTA DAN AT TUROTS…”
Abdurrahman Tamimi!! Ustadz H.Aunur Rafiq,Lc. dan Ustadz H.Agus Hasan Boshururi,Lc.,MAg. terbukti mempunyai (dan masih!) hubungan dengan Al-Sofwa!!
Abu Salma!! Apa komentarmu terhadap kenyataan ini?! Bukankah engkau telah ”berbasa-basi” dengan menyatakan bahwa AL-SOFWA MANHAJNYA TIDAK JELAS?! Sebagaimana penjelasan Ustadz-Ustadzmu!! Bagaimana mungkin engkau menyatakan demikian sementara Abdullah Taslim yang engkau bangga-banggakan justru mencari aman dengan ”tawaquf” dalam menyikapi yayasan Hizby yang jelas-jelas Hizby ini? Engkau kenal dengan Aunur Rafiq? Engkau lupa dengan Agus Hasan Bashori?! Apakah mereka berdua termasuk yang menyatakan bahwa Al-Sofwa manhajnya tidak jelas?! Yang jelas, mereka jelas-jelas masih berhubungan dengan Al-Sofwa Al-Muntada (lihat lagi bukti daftar hadir peserta daurah masyayikh yang mengundang utusan resmi dari Al Sofwa dan At Turots)!! Hati-hati, 2 benteng kokoh pengemban amanah Al-Sofwa di Gresik dan Malang akan menyerangmu!! Allahu yahdikum.
Dan jangan engkau ”terlalu rifqan dan mawaddah” terhadap Al-Sofwa Al-Muntada kepanjangan tangan Al-Muntada London milik organisasi Sururi Internasional!!
Dirimu telah berdusta wahai Abu Salma ketika menyatakan bahwa ”Al-Sofwa manhajnya tidak jelas”!!
Engkau hendak ”menggantung nasib” Al-Sofwa di ”awang-awang” sebagai legalitas manhaj pramuka kalian!! Di sini senang di sana senang?
Kalau ”nasibnya” tidak jelas bukankah kalian merasa lebih lega dan leluasa berhubungan dengannya?! Dan ….menikmati kekayaannya?! Ada khilaf dalam permasalahan ini! Kalau begitu? Harus berlapang dada, tidak boleh untuk saling mengklaim masing-masingnya paling benar! Tasamuh !!
Ya, khilaf baina Hizbiyyin wa Sururiyyin!! Saja!!
Adapun kedudukan Al-Sofwa Al-Muntada di sisi Salafiyyin?! Jum’iyyah Hizbiyyah!! Sesat dan menyesatkan!!
Mari kita perjelas Hizbiyyah dan kesesatan Al-Sofwa (dan harus kita ulangi lagi poin-poin kesesatannya)! Terpaksa hal ini kita lakukan karena yang kita hadapi adalah sekelompok Hizbiyyin yang tebal kantong dan tebal muka, sekaligus!!
Ustadz Muhammad Umar As-Sewed. Sebagai salah satu pendiri Al-Muntada, kesaksian beliau yang dipublikasikan di akhir tahun 90-an telah membuka mata sekian banyak Salafiyyin. Di kalangan asatidzah sendiri sampai terjadi eksodus besar-besaran dari yayasan ini setelah SEMAKIN JELAS MANHAJ DAN SIKAP AL-SOFWA dan penguasa di atasnya!!
Keluarnya beliau dari Al-Muntada adalah bukti nyata bahwa Al-Sofwa memiliki manhaj yang jelas!! Sururi
Keluarnya sekian banyak Asatidzah dari Al-Sofwa (di tahun 90-an) adalah waqi’ yang tidak bisa dipungkiri bahwa manhaj Al-Sofwa benar-benar Sururi!!
Hubungan Muhammad Khalaf dengan Salman Al-Audah!!
Hubungan mesra Muhammad Khalaf dengan Anis Matta dedengkot partai Ikhwanul Muslimin!!
Hubungan Muhammad Khalaf dengan Shalih Faiz, seorang guru di Jami’ah Islamiyyah Madinah yang dipecat karena terfitnah dengan Sururiyyah!!
Sokongan dana Muhammad Khalaf kepada pondok Ahlul Bid’ah Ba’asyir Ngruki dalam keadaan dia tahu benar fikrah Khawarij NII yang disebarkannya! Dalam keadaan dia sudah dinasehati Ustadz Muhammad Sewed!!
Aliansi Al-Sofwa dengan gembong-gembong harakah yang jelas-jelas manhajnya Ikhwani!! Mudzakir Arif!! Mushlih Abdul Karim!! Ahzami Samiun!!
Belum lagi ”jasa besar” Al-Sofwa dalam memfasilitasi berbagai kegiatan yang diasuh oleh para da’i ”binaannya” baik yang berlatar belakang takfiri seperti Farid Okbah, Aman Abdurrahman (Cimanggis Bomb), Ahli hadits ”otodidak” (Abdul Hakim Abdat), da’i kondang (Yazid Jawas), Turotsy (Khalid Syamhudi, Abu Nida’, Abu Ihsan, Ahmas Faiz), Irsyady (Aunur Rafiq, Nizar Jabal), Quthby (Yusuf Ba’isa), Ikhwani (namanya sudah tertulis) maupun orang-orang yang tidak jelas ”latar belakang pemikirannya”. Kesemuanya bersatu padu di dalam ”Molen putar” yayasan Tong Sampah…Al-Sofwa Al-Muntada!!
Apakah masih kurang jelas ”sinar matahari di siang bolong” ini wahai Abu Salma penipu umat? Kita lanjut…
Syi’ar terbuka dan terang-terangan ta’awun Hizbiyyah Sarriyyah antara Al-Sofwa dengan Hidayatullah, Al-Haramain, Ihya’ut Turots, belum lagi promosi Al-Sofwa terhadap L-DATA yang menjadi sarang gembong-gembong Ikhwanul Muslimin!!
Propaganda penyesatan di situsnya yang terang-terangan mengajak umat untuk berHizbiyyah-ria dengan para gembong Sururi internasional, Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid, Syaikh Ibrahim bin Abdullah Ad-Duwaisy ”fotokopi” Salman Al-Audah, Kedua nama itu diletakkan di atas nama Syaikh Al-Albani Rahimahullah? Sa’ad Abdullah Al-Buraik, Abdul Wahhab Thoriry, Sa’id bin Musfir, Ali Al-Qarni, Bisyr bin Fahd Al-Bisyr, Muhammad Mukhtar Asy-Syinqity, Ahmad Al-Qahhthan dan DR.THARIQ SUWAIDAN!! Siapa yang tidak kenal dengan Thariq Suwaidan gembong besar Hizbiyyin-Sururiyyin-Ikhwanul Muslimin!! Doktor wahai Abu Salma!! Dan disisimu ada Caldok yang engkau banggakan!!
Mungkin ada diantara pembaca yang bertanya:”Kenapa berbagai tipe manusia dan manhaj bisa kita temukan di Al-Sofwa saling bahu membahu dan berdakwah bersama? Bukankah ini merupakan prototipe manhaj ”berbeda-beda tetapi tetap satu jua”? Manhaj ”Kita saling menolong pada apa yang kita sepakati dan saling mema’afkan pada apa yang kita perselisihkan”!! Ya, Manhaj Ikhwany dan mewakili pula Manhaj yang diperjuangkan oleh Ahmad Surkaty!!”

[2] Lihat Mizanul I’tidal oleh Imam Adz-Dzahabi juz 4 hal 320 cet Darul Kutub Ilmiyah. (pent)
[3] Lihat Mizanul Mizan oleh Ibnu Hajar al-Asqolani 4/321’312 cet. Darul Ihyautturats Islami – Beirut. (pent)
[4]Ditrankrip dari ceramah beliau yang berjudul Tanaaqudhaat rumuuzu ash-shahwah yang telah kami terjemahkan dalam majalah Adz-Dzakhirah edisi 12 dengan judul “Menyingkap hakekat dan jati diri dai-dai kondang”
[5] Bagaimana mungkin Abu Abdurrahman mendapatkannya sementara Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu telah meninggal dunia ketika kekhalifahan diemban oleh Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib?! Tidaklah mungkin seorang shahabat memuji/merekomendasi seorang pembunuh Amirul Mukminin!! Waktu telah berlalu, “orang baik itu” telah memilih kesesatan sebagai akhir hidupnya dan masih pula Abdurrahman bin Thayyib tanpa rasa malu menggunakan “tazkiyah kebaikan” dari para shahabat sebagai bukti meleset/salahnya fatwa mereka!! Engkau curang wahai Abu Abdurrahman!
[6] Sekilas tentang sosok shahabat yang disebut-sebut oleh Abu Abdurrahman Abdurrahman bin Thayyib telah “salah berfatwa/merekomendasi”, yakni Umar bin Khaththab, dan Amr bin Ash ra serta kisah terbunuhnya Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhum.
‘Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu. Shahabiyyun jalil yang dinyatakan syahid dan dijamin masuk surga oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sekian ayat turun sesuai dengan apa yang beliau harapkan seperti ayat tentang pengharaman khamr dan turunnya ayat hijab. Beliau menjadi Khalifah menggantikan Abu Bakar Ash Shiddiq radhiyallahu ‘anhu pada tahun 13H. Beliau meninggal sebagai syahid karena dibunuh oleh Abu Lu’lu’ah Al Majusi, budak milik Mughirah bin Syu’bah. Penjahat ini telah mengintai ‘Umar ketika beliau shalat di Masjid Nabawi. Dalam keadaan berdiri menghadap Kiblat, tiba-tiba Abu Lu’lu’ah menerjang barisan shalat dengan menghunus belati kecil bermata dua. Ia menikam ‘Umar radhiyallahu ‘anhu dengan enam kali tikaman. Salah satu tikaman mengenai bagian bawah pusar. Tikaman inilah yang akhirnya menjadi penyebab terbesar beliau meninggal. Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Wafat pada malam Rabu, tiga hari terakhir bulan Dzulhijjah tahun 23H. Dimakamkan hari Rabu di kamar A’isyah radhiyallahu ‘anha, disamping dua shahabat beliau, Rasul Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dan Abu Bakar Ash Shiddiq Radhiyallahu ‘anhu.
Adapun Amr bin Ash, beliau juga shahabat Rasul Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, salah seorang panglima perang khalifah ‘Umar bin Khaththab Radhiyallahu ‘anhu. Diijinkan oleh Khalifah Umar untuk melakukan pembebasan Mesir dari tangan penjajah Romawi Salibis. Menjadi gubernur beliau di sana.
Kisah terbunuhnya Khalifah Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu. Beliau diangkat sebagai khalifah setelah syahidnya Utsman bin Affan Radhiyallahu ‘anhu. Belia dibunuh pada bulan Ramadhan tahun 40H, tepatnya malam ke 17 bulan ramadhan ketika beliau keluar dari kediamannya untuk shalat Subuh. Ketika beliau menyeru, “Wahai kaum muslimin, tunaikan shalat! Tunaikan shalat!”, Abdurrahman bin Muljam menghampiri beliau lalau menebaskan pedangnya ke arah dahi, seraya mengucapkan, “Hukum hanya milik Allah, bukan milikmu wahai Ali dan tidak pula milik rekan-rekanmu!”. Subhanallah, teriakan yang sama sebagaimana teriakan para teroris Khawarij di jaman ini!

Faidah kisah di atas dengan “kecerdasan” Irsyadi Abdurrahman bin Thayyib hadanallahu wa iyyahu ketika melecehkan kehormatan para shahabat: “Jika mereka para sahabat dan para ulama Ahlussunnah wal Jama’ah yang sudah amat dikenal kebaikan aqidah dan manhajnya terkadang salah dalam merekomendasi, apalagi para masyayikh yang sangat jauh keilmuannya dari mereka…”.
Rekomendasi Amr bin Ash, gubernur Mesir ketika itu dan pengakuan ‘Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhum terhadap kebaikan Abdurrahman bin Muljam “taruhlah” di tahun-tahun terakhir pemerintahan beliau, yakni tahun terbunuhnya (23H) – kita perhitungkan dengan waktu yang paling dekat dengan tahun pembunuhan Khalifah Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu yakni tahun 40H. Maka tetap memiliki selisih waktu yang cukup panjang, 17 tahun! Waktu yang sangat panjang untuk berubahnya watak dan perilaku seseorang (Abdurrahman bin Muljam), apalagi tersebarnya fitnah dan dendam musuh-musuh dakwah dari kalangan Khawarij dan Syi’ah Rafidhah karena ketegasan para shahabat dalam membasmi dan menumpas mereka, jazahumullahu khairan katsira. Adalah sikap yang sangat aneh, sangat ngawur dan sangat keterlaluan jika Abdurrahman bin Thayyib masih pula menyeret-nyeret DAN MENYALAHKAN rekomendasi “Umar bin Khaththab Radhiyallahu ‘anhu yang pernah diberikan kepada Abdurrahman bin Muljam bahkan setelah beliau meninggal dunia TUJUH BELAS TAHUN SEBELUMNYA! Menuduhnya sebagai rekomendasi yang salah, fatwa yang tidak sesuai dengan fakta/ kenyataan yang ada!!
Kita tanyakan kepada Abdurrahman bin Thayyib – hadanallahu wa iyyahu – dan jangan coba-coba engkau bersembunyi di balik secarik kertas ijazah Lc-mu di Universitas Madinah!
Fakta apa yang dapat engkau tunjukkan kepada kaum muslimin (untuk mendukung penyalahanmu terhadap pengakuan ‘Umar dan Amr Radhiyallahu ‘anhuma) ketika fatwa itu dikeluarkan (sekitar TUJUHBELAS TAHUN sebelum Abdurrahman bin Muljam melakukan pembunuhan)? Kenyataan apa yang dapat engkau hadirkan secara ilmiyah bahwa fatwa kedua shahabat tersebut meleset tidak sesuai dengan kenyataan ketika fatwa itu dikeluarkan? Ataukah engkau mendapatkan wahyu (yang ‘Umar-pun tidak mendapatkannya) yang dapat meneropong kejadian tujuh belas tahun setelahnya?! Apakah engkau dapat menunjukkan SATU ORANG SAJA DARI KALANGAN SHAHABAT yang menentang atau tidak sependapat ketika rekomendasi itu dikeluarkan? Ataukah engkau juga akan menyalahkan sekian banyak para shahabat yang mendiamkan saja Amirul Mukminin memuji Abdurrahman bin Muljam? Atau dapatkah engkau menunjukkan bukti (wallahi, kalau engkau tidak mampu mendapatkannya dari jalan yang shahih atau hasan, berikanlah dari jalan yang dha’if!) bahwa setelah terbunuhnya Khalifah ‘Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu ada SATU ORANG SAJA DARI KALANGAN SHAHABAT YANG MENYALAHKAN/MENGGUGAT REKOMENDASI ‘Umar dan Amr Radhiyallahu ‘anhuma yang pernah diberikan (kepada Abdurrahman bin Muljam)!Ya, setelah beliau dimakamkan TUJUHBELAS TAHUN SEBELUM PEMBUNUHAN TERJADI! MAKA, TUNJUKKANLAH BURHAN DAN HUJJAHMU WAHAI IRSYADIYYUN!! Hal yang paling jelas (dan paling licik!) dari Irsyadiyyun ini adalah dia ingin mengesankan kepada kita sekalian bahwa Amirul Mukminin Umar bin Khaththab dan Gubernur mesir, Amr bin Ash radhiyallahu ‘anhuma telah merekomendasi seorang pembunuh Ali Bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu!! Sayang Abdurrahman bin Thayyib salah, meleset berfatwa bahwa tidak semuanya umat adalah orang-orang bodoh yang dapat dengan mudah dibodohi begitu saja sehingga mereka tidak mampu membedakan, kapan rekomendasi itu dikeluarkan dan kapan pula pembunuhan itu terjadi!! Dan memang, hizbi identik dengan kelicikan tetapi Allah ta’ala tidak akan ridha kecuali menghinakan seketika itu juga kelicikan yang ditaburkannya. Walhamdulillah.
Kami marah dengan penyesatan dan talbis Qiblati selama ini sebagaimana kalian marah karena pemikiran takfiri Syaikh Mamduh dan pembelaan Agus Hasan Bashari terhadap majikannya! Maka sungguh dan sungguh bahwa kamipun marah kepada kalian karena kalian mencela dan menghina para shahabat radhiyallahu ‘anhum wa radhu’an!! Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah! Dulu para pendahulu irsyadiyyun telah menghina dan lelecehkan para ulama pewaris para nabi dan sekarangpun mereka mengikuti jejak pendahulunya. Saudaraku sekalian, Semoga Allah membalas kemarahan kita dan pembelaan kita (sebatas ilmu yang kita miliki) terhadap kehormatan para shahabat dengan ridha dan surgaNya. Amin.

[7] Perhatikanlah wahai saudaraku, betapa besarnya prasangka baik Syaikh Muqbil Rahimahullah kepada Syaikh berdua yang mulia ini (dan bandingkan dengan tulisan tidak sopan yang dilontarkan oleh Abu Abdurrahman bin Thayyib terhadap para shahabat dan masyayikh).

[8] Ini adalah contoh yang sangat bagus untuk menyingkap talbis Firanda. Kita sengaja membawakan jawaban dari Syaikh Muqbil Rahimahullah agar kita tidak dikatakannya menolak fatwa-fatwa Kibar ulama sebagaimana yang dilakukan oleh Sururiyyun yang menuduh Masyayikh tidak mengetahui fiqhul waqi’. Maka, apakah Firanda masih mampu untuk berkata kepada Syaikh Muqbil Rahimahullah:” “Mungkinkah para ulama (kibar) mengeluarkan pernyataan tanpa ilmu dan tanpa mengetahui realita?! Bukankah ini termasuk mengikuti hawa nafsu?”(Lerai…, hal.225-226). “Ini mirip dengan cara hizbiyyin dalam menolak fatwa-fatwa para ulama Kibar dengan tuduhan mereka tidak mengetahui fiqhul waqi’, sehingga fatwa mereka mentah, tidak sesuai dengan kenyataan yang ada” (ibid, hal.225). ”Pernyataan ini secara tidak langsung menuduh bahwa para ulama kibar tidak mengetahui fiqhul waqi’ dan tidak tahu medan dakwah..” (ibid, hal.224). Dan tentu saja Firanda akan menjustifikasi pendapatnya dengan pernyataan:”Jika para ulama kibar yang memberikan rekomendasi saja bisa keliru dan salah, (apalagi) para ulama yang notabene mereka adalah murid-murid para ulama kibar tersebut tentunya kemungkinan untuk salah dan keliru lebih besar lagi”(ibid, hal.234-235). Duhai alangkah mahalnya sebuah kebenaran.
[9] Syaikh Muqbil Rahimahullah berkata:
Amma ba’du,
Sururisme (Sururiyyah) adalah suatu penisbatan yang ditujukan kepada Muhammad Surur Zainal ‘Abidin. Pada awalnya dia berdiam di Kuwait, dimana dia mengeluarkan (mengarang) beberapa kitab yang baik yang didalamnya menjelaskan tentang aqidah Syi’ah serta buku-buku bagus lainnya. Kemudian dia pindah ke Jerman lalu ke Inggris (United Kingdom,red), dimana akhirnya dia menetap disana.
Lalu disana dia memproduksi majalah berjudul “Al Bayan”, kami dulu benar-benar gembira akan hal itu. Kemudian dia pun memproduksi majalah lainnya, yaitu “As Sunnah”, dan kami pun bersikap sama. Dan pada waktu itu kami katakan, “Inilah jawaban yang selama ini kita tunggu-tunggu”. Beberapa saudara kita pun memuji majalah Al Bayan dan kami pun waktu itu memujinya dengan mengatakan : “Tidak didapati (majalah) yang dapat menyamainya”. Namun seperti itulah keadaan dari Hizbiyyah, pada awalnya mereka seakan-akan berdakwah kepada Al Qur’an dan As Sunnah sehingga hati umat melekat pada mereka, dan kekuatan mereka pun bertambah meningkat. Ketika mereka (umat) mengetahui ada bahwa ada kritikan atasnya, maka kritikan tersebut tidak berpengaruh apa-apa padanya, sehingga mereka menampakkan apa yang mereka sebenarnya ada diatasnya.
Majalah “As Sunnah”, atau lebih tepat disebut “Al Bid’ah”, menyerukan umat untuk menjauhi para ulama dan menuduh para ulama sebagai tidak proaktif, dibayar oleh pemerintah dan tidak mempunyai pemahaman terhadap hal-hal terkini (Fiqhul Waqi’).
Namun, Alhamdulillah, topeng dari sururi-sururi (pengikut paham Sururiyyah,red) itu pun terbongkar pada masa perang Teluk. Ini adalah anugerah dari Allah ‘Azza wa Jalla. Saya ingat waktu itu membaca beberapa perkataan (di dalam majalah mereka) yang didalamnya terdapat celaan terhadap Syaikh Al Albani – rahimahullah – , dikarenakan beliau membuat sebuah ceramah yang direkam yang berjudul “Pertemuan dengan Sururi”. Kemudian di halaman yang lainnya mereka memberikan pujian kepada Syaikh Bin Baz. Maka aku pun sadar terhadap arti dari pujian ini, yaitu agar mereka tidak dikatakan “Mereka menyerang para ulama”.
Beberapa hari setelah dikeluarkannya fatwa Syaikh Bin Baz tentang diperbolehkannya membuat perjanjian damai dengan Yahudi, mereka pun melancarkan serangan terhadap beliau. Maka inilah fakta dalam rencana mereka yang sebelumnya dipendam dengan baik, dalam rangka menjauhkan umat dari para ulama!
(Sumber artikel :http://www.salafy.or.id/print.php?id_artikel=837 )

About these ads