Untuk Para Pencari Al Haq

Blog Anti Teroris, Menyajikan Bukti dan Fakta yang Nyata

  • بسم الله الرحمن الرحيم

    السلام عليكم و رحمت الله و بركاته Ahlan wa sahlan.. Alhamdulillah telah hadir blog Untuk Para Pencari Al Haq, Blog ini kami peruntukkan bagi mereka yang haus akan kebenaran, yang ingin mencari al haq ditengah badai fitnah yang menimpa kaum muslimin khususnya Salafiyyin. Mudah-mudahan kehadiran blog ini bisa menjadi salah satu media yang membantu bagi para pencari al haq. CARILAH AL HAQ DAN BILA ENGKAU TELAH MENDAPATINYA GENGGAMLAH KUAT-KUAT DAN JANGAN TERLEPAS KEMBALI... والسلام عليكم و رحمت الله و بركاته
  • Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala:

    وَيَوْمَ يَعَضُّ الظَّالِمُ عَلَى يَدَيْهِ يَقُولُ يَالَيْتَنِي اتَّخَذْتُ مَعَ الرَّسُولِ سَبِيلاً. يَاوَيْلَتَى لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيلاً. لَقَدْ أَضَلَّنِي عَنِ الذِّكْرِ بَعْدَ إِذْ جَاءَنِي وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِلْإِنْسَانِ خَذُولًا “Dan ingatlah hari ketika itu orang yang zalim menggigit dua tangannya, seraya berkata, ‘Aduhai kiranya dulu aku mengambil jalan bersama-sama Rasul. Kecelakaan besarlah bagiku, andai kiranya dulu aku tidak menjadikan si Fulan itu teman akrabku. Sungguh ia telah menyesatkan aku dari Al-Qur`an ketika Al-Qur`an itu telah datang kepadaku.’ Dan adalah setan itu tidak mau menolong manusia.” (Al-Furqan: 27-29)
  • Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

    الرَّجُلُ عَلَى دِيْنِ خَلِيْلِهِ، فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ “Seseorang itu menurut agama teman dekat/sahabatnya, maka hendaklah salah seorang dari kalian melihat dengan siapa ia bersahabat/berteman.” (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi. Dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Ash-Shahihah no. 927)
  • Kategori

  • Arsip

  • KALENDER

    November 2013
    S S R K J S M
    « Okt   Des »
     123
    45678910
    11121314151617
    18192021222324
    252627282930  
  • Radio Islam Indonesia

  • Komentar Terakhir

    fitrah di Soal Tazkiyah & Wasiat Ber…
    Admin IlmuSyari.com di Daurah Nasional “asy-Syari’ah”…
    abdurrahman abu hilm… di Khutbah Jum'at Syaikh Han…
    abdur di Jihad Yaman, Antara Tingkah Pe…
    Muhsin al Jakarty di Syaikh Hani Mengirimkan Gambar…
    muhammad thoifur di (RAFIDHAH &) "MASYAYI…
  • Flag Counter

    free counters
  • IP
  • Pengunjung Ke

    • 921,725 hits

Merontokkan Syubhat-syubhat Manhaj Al-Halaby (& Halabiyun) Bag. 1

Posted by tukpencarialhaq pada November 5, 2013


Bismillahirrohmanirrohim. o

merontokkan syubhat2 al halabi dan halabiyyun bag.1

الْحَمْدُ للهِ وَالصَّلاةُ وَالسَّلامُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ أَمَّا بَعْدُ:

Ini adalah bantahan terhadap beberapa syubhat yang dinyalakan oleh sebagian manusia karena mereka menyangkanya sebagai kebenaran dan mereka menganggap bahwa yang diyakini oleh Salafiyun adalah salah dan menyelisihi kebenaran. Syubhat terbesar tersebut diantaranya adalah:

Syubhat Pertama: Mereka mengatakan bahwa pintu jarh wa ta’dil terpisah dan bahwasanya istiqra’ (penelitian) yang menunjukkan adanya jarh wa ta’dil di zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi was sallam bukanlah dalil, dan bahwasanya daging para ulama beracun serta pintu jarh wa ta’dil telah ditutup dan berakhir pada zaman para periwayat hadits.

Bantahan terhadap syubhat ini dari beberapa sisi:

Sisi Pertama: Bahwasanya pintu jarh wa ta’dil, sama saja apakah dia dianggap dua pintu –yaitu pintu jarh dan pintu ta’dil– atau keduanya hanya satu pintu yaitu pintu kritikan, perkaranya luas namun intinya yang dimaksud adalah penetapan dua pintu ini atau satu pintu ini dan bahwasanya dalil-dalilnya ada di dalam Al-Kitab dan As-Sunnah, tidak seperti yang mereka anggap bahwa itu hanya khusus pada periwayatan dan telah berakhir. Tidak demikian, bahkan pintu kritikan dan jarh wa ta’dil ada berdasarkan dalil-dalil berikut:

1. Firman Allah Azza wa Jalla:

يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوْا أَنْ تُصِيْبُوْا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوْا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِيْنَ.

“Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepada kalian seorang yang fasik membawa sebuah berita maka telitilah, agar kalian tidak menimpakan keburukan kepada suatu kaum berdasarkan ketidaktahuan sehingga kalian menyesal akibat apa yang kalian lakukan.” (QS. Al-Hujurat: 6)

Di dalam ayat ini terdapat tuntutan orang yang terpercaya dalam riwayat dan orang yang terpercaya dalam menyampaikan berita.

2. Rasulullah shallallahu ‘alaihi was sallam bersabda:

مَنْ حَدَّثَ عَنِّيْ حَدِيْثًا يَرَى أَنَّهُ كَذِبٌ فَهُوَ أَحَدُ الكَاذِبِيْنَ.

“Barangsiapa meriwayatkan sebuah hadits dariku dalam keadaan dia mengetahui bahwa itu adalah riwayat dusta, maka dia termasuk salah satu pendusta.” (HR. Muslim no. 1 –pent)

Beliau juga bersabda:

مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا، فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ.

“Siapa saja yang sengaja berdusta atas namaku, maka hendaklah dia menyiapkan tempat duduknya di neraka.”

(HR. Al-Bukhary no. 110 dan Muslim no. 3 –pent)

3. Rasulullah shallallahu ‘alaihi was sallam bersabda kepada Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu ketika dia menceritakan kepada beliau tentang syetan atau orang mencuri makanan (zakat):

صَدَقَكَ وَهُوَ كَذُوْبٌ.

“Dia telah berkata benar kepadamu, tetapi dia sangat pendusta.”

(HR. Al-Bukhary no. 2311 –pent)

Di sini Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam menjarh syetan disertai membenarkan ucapannya, maka pada kisah ini terdapat dalil untuk menjarh para perawi.

4. Rasulullah shallallahu ‘alaihi was sallam dalam banyak peristiwa beliau membicarakan kekurangan sebagian shahabat demi maslahat yang dibenarkan oleh syariat dan bukan semata-mata dalam bab riwayat sebagaimana anggapan mereka atau ucapan mereka “daging ulama beracun” dengan tujuan menghalangi manusia dari kebenaran dan petunjuk dalam bab ini. Diantaranya ketika Fathimah bintu Qais datang meminta saran kepada Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam tentang lamaran Muawiyah bin Abi Sufyan dan Abu Jahm radhiyallahu ‘anhum, ketika itu beliau bersabda:

أَمَّا مُعَاوِيَةُ فَصُعْلُوْكٌ لَا مَالَ لَه أَمَّا وَأَبُوْ جَهْمٍ فَلَا يَضَعُ عَصَاهُ عَنْ عَاتِقِهِ -وفي رواية- ضَرَّابٌ لِلنِّسَاءِ.

“Adapun Muawiyah dia adalah orang yang miskin tak berharta, sedangkan Abu Jahm tidak pernah meletakkan tongkatnya dari pundaknya –dalam riwayat lain disebutkan maknanya– suka memukul wanita.”

(HR. Muslim no. 1480 –pent)

Jadi dua shahabat yang mulia ini dibicarakan kekurangannya oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi was sallam dalam rangka nasehat, bukan dalam bab riwayat.

5. Demikian juga dalam hadits yang menceritakan istri Abu Sufyan yaitu Hindun radhiyallahu anha ketika datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi was sallam dan mengatakan: “Sesungguhnya Abu Sufyan orang yang kikir.” Ketika itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi was sallam tidak mengatakan kepadanya bahwa ucapannya tersebut tidak boleh, atau yang semacam ini adalah pernyataan bahwasanya daging ulama beracun, tidak. Dia datang mengadu dan menceritakan apa yang terjadi sebenarnya yang dia hadapi.

Maka kita katakan bahwa pintu jarh wa ta’dil ada dalilnya di dalam Al-Kitab dan As-Sunnah, dan dalilnya bukan hanya dengan istiqra’ (penelitian) saja, bahkan dengan nash-nash yang jelas dan gamblang. Adapun masalah bahwasanya istiqra’ bukanlah dalil, istiqra’ adalah menelusuri dalil-dalil yang dilakukan oleh ulama, cara yang ditempuh dalam rangka membahas dalil-dalil dengan membca nash-nash. Jadi istiqra’ itu sendiri memang bukan dalil, tetapi metode untuk mendapatkan dalil-dalil dari Al-Kitab dan As-Sunnah. Dia bukan dalil tetapi hanya cara mengumpulkan dalil-dalil seperti menelurusi riwayat-riwayat untuk mengetahui syawahid, mutaba’at dan mukhalafat. Maka tatkala para ulama menelusuri Al-Kitab dan As-Sunnah mereka pun mendapatkan dalil-dalil yang jelas dan terang serta yang sifatnya nash pada bab ini, yang itu termasuk bukti yang menunjukkan bahwa pintu jarh wa ta’dil termasuk nasehat yang dijelaskan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam:

الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ.

“Agama adalah nasehat.”

Para shahabat bertanya, “Untuk siapakah wahai Rasulullah?”

Beliau menjawab:

لِلَّهِ وَلِكِتَابِهِ وَلِرَسُوْلِهِ وَلأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِيْنَ وَعَامَّتِهِمْ.

“Untuk Allah, kitab-Nya, rasul-Nya, para pemimpin kaum muslimin dan mereka seluruhnya.”

Jadi dalil-dalil jarh wa ta’dil ada dalam Al-Kitab dan As-Sunnah dan keduanya merupakan dua pintu atau satu pintu yang ada dan tetap, sama saja kita namakan satu pintu atau dua pintu, perkaranya luas. Ini bantahan dari sisi pertama.

Sisi kedua: Sesungguhnya masalah kritikan, jarh dan tahdzir terhadap orang-orang yang menyimpang atau menyelisihi kebenaran tidaklah terbatas pada riwayat, dan ini semua berlaku di setiap zaman dan tempat, tidak hanya di zaman kita saja. Allah Azza wa Jalla telah mentahdzir Fir’aun, apakah Fir’aun salah seorang perawi hadits?! Allah mencela Abu Lahab, apakah Abu Lahab seorang perawi hadits?! Di dalam Kitabullah terdapat celaan terhadap syetan, celaan terhadap para pengikut syetan dan celaan para pengekor hawa nafsu, apakah mereka semua adalah para perawi hadits?!

Demikian juga Rasulullah shallallahu ‘alaihi was sallam telah mentahdzir Dajjal yaitu yang banyak berdusta, dan Dajjal ini:

مَا مِنْ نَبِيٍّ إِلَّا وَحَذَّرَ أُمَّتَهُ الدَّجَّالَ.

“Tidaklah seorang nabi pun kecuali telah memperingatkan umatnya dari Dajjal.”[i]

Dajjal ini akan datang di akhir zaman, padahal dia bukan rawi hadits, tetapi seorang pendusta dalam agama. Dan Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam juga telah memperingatkan dajjal-dajjal yang lain secara umum dengan bersabda:

فِيْ أُمَّتِي ثَلَاثُوْنَ كَذَّابُوْنَ كُلُّهُمْ يَزْعُمُ أَنَّهُ نَبِيٌّ وَأَنَا خَاتَمُ النَّبِيِّيْنَ لَا نَبِيَّ بَعْدِيْ.

“Di umatku ada 30 pendusta, mereka semua mengaku nabi, aku adalah penutup para nabi dan tidak ada nabi setelahku.”[ii]

Jadi Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam telah memperingatkan dari para dajjal dan par pendusta, baik dengan sifat maupun dengan menyebut namanya. Demikian juga para Shahabat radhiyallahu ‘anhum, Tabi’in dan pengikut mereka hingga zaman kita.

Bahkan manusia secara umum atau mereka yang membentuk kelompok-kelompok seperti Al-Ikhwan Al-Muslimun dan Jamaah Tabligh mereka hakekatnya juga menerapkan jarh wa ta’dil, hanya saja hal itu ditujukan terhadap pihak-pihak yang menyelisihi mereka. Kita jumpai misalnya mereka mencela orang-orang sekuler, mencela orang-orang liberal, mencela artis dan penyanyi yang mereka namakan sebagai seniman dan mencela orang-orang fasik. Mereka itu yang merupakan orang-orang fasik atau sekuler atau orang-orang yang berseberangan dengan Al-Ikhwan Al-Muslimun itu dengan sebab apa mereka ditahdzir?! Bukankah itu termasuk jarh wa ta’dil atau termasuk nasehat?!

Demikian juga ahlul ahwa’ dari kalangan hizbiyun mereka mentahdzir Salafiyun dan mentahdzir Asy-Syaikh Rabi’ dan mencela beliau. Dan termasuk syubhat yang dilontarkan adalah celaan mereka terhadap Asy-Syaikh Rabi’ dan terhadap manhaj Salaf sebagai manhaj orang-orang lembek (terhadap pemerintah/penjilat penguasa –pent). Jadi mereka mencela manhaj yang ditempuh oleh para ulama Salafiyun dan mereka juga mencela para ulama.

Maka kenapa bagi mereka halal untuk mencela para penyanyi dan orang-orang fasik dan mencela orang-orang liberal dan sekuler serta orang-orang yang memiliki pemikiran rusak yang lainnya, bahkan juga keyakinan-keyakinan orang-orang kafir?! Bagi mereka juga halal untuk mencela Salafiyun. Bagaimana hal ini dan dengan alasan apa?! Jika mereka menganggap perbuatan mereka boleh maka apa dalilnya?! Pasti mereka akan kembali kepada bab amar ma’ruf dan nahi mungkar, mereka pasti akan berdalih itu sebagai nasehat, mereka akan kembali kepada jarh wa ta’dil.

Jadi masalah jarh wa ta’dil semua manusia menerimanya, baik dengan sikap atau dengan ucapan.[iii] Tetapi anehnya mereka menganggap bahwa pintu jarh wa ta’dil telah tertutup, itu mereka katakan dengan tujuan menghalangi manusia dari jalan Allah dan untuk membantah Salafiyun saja. Yaitu semata-mata karena sombong dan membangkang terhadap kebenaran. Bukanlah masalahnya apakah mereka mengikuti dalil atau kebenaran, bukan itu. Jadi mereka pada prakteknya juga menerapkan jarh wa ta’dil, bahkan mereka mencela Ahlus Sunnah dan para ulama Salafiyun hingga terkenal. Namun mereka tidak menerapkan kaedah-kaedah yang diletakkan oleh para ulama tersebut karena mereka ingin membela diri dan mencela Salafiyun serta menolak vonis para ulama. Ini bantahan dari sisi kedua.

Sisi ketiga: Ucapan bahwa “daging para ulama beracun” ini yang dimaksud adalah daging ulama Ahlus Sunnah. Mereka ini tidak diragukan lagi daging mereka beracun, bahkan daging seorang muslim tanpa alasan yang benar hukum asalnya tidak boleh dimakan (dibicarakan aibnya –pent). Allah Ta’ala berfirman:

وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيْهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوْهُ.

“Dan janganlah sebagian kalian menggunjing sebagian yang lain, apakah salah seorang dari kalian senang untuk memakan daging saudaranya yang telah mati.” (QS. Al-Hujurat: 12)

Jadi ghibah tidak boleh, dan ghibah adalah sebagaimana yang dijelaskan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam:

ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ.

“Engkau menyebutkan keadaan saudaramu dengan hal-hal yang dia tidak menyukainya.”

(HR. Muslim no. 2587 –pent)

Tidak boleh menyebutkan aib seorang muslim yang dia benci kecuali karena kebutuhan yang dibenarkan syariat, seperti nasehat, amar ma’ruf nahi mungkar, pada masalah riwayat, persaksian dan yang lainnya yang para ulama dengan tegas menjelaskan kebolehannya pada bab ghibah.

Jadi daging para ulama dan daging kaum Muslimin hakekatnya beracun, dan yang lebih beracun adalah daging para ulama dan daging pemerintah. Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam bersabda:

إِنَّ أَعْظَمَ النَّاسِ فِرْيَةً الَّذِيْ يَهْجُوْ الْقَبِيْلَةَ بأَسْرِهَا.

“Sesungguhnya manusia yang paling besar kedustaannya adalah yang mencela sebuah kabilah secara keseluruhan.”

(Lihat: Silsilah Ash-Shahihah no. 763 –pent)

Maka tidak diragukan lagi bahwa kita meyakini hal ini, dan kita mengetahui bahwa ahlul ahwa’ terjatuh ke dalam permasalahan ini di mana mereka terus mengunyah daging ulama dan pemerintah dan tidak membiarkan daging mereka serta mencela Salafiyun. Kita ingkari perkara yang ada pada mereka ini dan kita katakan kepada mereka: Apa yang dilakukan oleh Salafiyun berupa tahdzir terhadap ahlul ahwa’ dan ahli bid’ah adalah perkara yang disyariatkan karena termasuk bentuk nasehat. Jadi sebagaimana kalian melakukannya dan menganggapnya bahwa hal ini boleh bagi kalian untuk mengarahkannya kepada pemerintah dan ulama Salafiyun yang dituduh sebagai ulama kaki tangan pemerintah, atau ulama yang lembek atau yang semisalnya, dalam keadaan ucapan kalian ini bathil, jika demikian bagaimana kalian sedemikian lancang mengucapkan ucapan seperti ini jika daging para ulama beracun?! Ataukah kalian memaksudkan bahwa daging yang beracun itu hanya daging ahlul ahwa’ dan ahli bid’ah saja?! Maka mau tidak mau kami harus mentahdzir mereka dan menjelaskan bagaimana mereka menipu manusia. Jadi ini adalah jawaban dari syubhat pertama.

 

Ditranskrip oleh:

Abu Abdirrahman Kamal Al-Iraqy

9 Muharram 1433

BERSAMBUNG IN SYA ALLAH


[i]
          [i] HR. Al-Bukhary no. 6175 dengan lafazh:

        وَمَا مِنْ نَبِيٍّ إِلَّا وَقَدْ أَنْذَرَهُ قَوْمَهَ.

      “Tidak ada seorang nabi pun kecuali telah memperingatkan kaumnya darinya.”

      Juga diriwayatkan oleh Muslim no. 2933 dengan lafazh yang hampir sama. (pent)

[ii]
          [ii] HR. Al-Bukhary no. 3609 dan Muslim no. 157 dari hadits Abu Hurairah dengan lafazh:

        وَلاَ تَقُوْمُ السَّاعَةُ حَتَّى يُبْعَثَ دَجَّالُوْنَ كَذَّابُوْنَ قَرِيْبًا مِنْ ثَلاَثِيْنَ، كُلُّهُمْ يَزْعُمُ أَنَّهُ رَسُوْلُ اللهِ.

      “Kiamat tidak akan terjadi hingga muncul para dajjal pendusta yang jumlah mereka hampir 30, mereka semua mengaku sebagai rasul Allah.”

Sedangkan lafazh di atas adalah riwayat At-Tirmidzy no. 2219 dari hadits Tsauban. (pent)

 

[iii]
                        [iii] Jarh wa ta’dil faktanya merupakan perkara yang tidak bisa dihindari dalam kehidupan manusia. Semua orang hampir pasti pernah melakukannya atau membutuhkannya. Minimalnya dalam urusan dunia. Padahal urusan agama jelas jauh lebih penting dari dunia. Misalnya kita jumpai orang mau membeli sesuatu, dia akan bertanya atau akan diberi tahu mana tempat atau penjual yang baik pelayanannya, murah, barang berkualitas, garansi bagus dan lain sebagainya. Atau ada orang lain yang memperingatkan dari penjual yang buruk pelayanan atau barangnya. Demikian juga orang yang mau menikah atau menikahkan orang lain mau tidak mau pasti dia membutuhkan jarh wa ta’dil. Tentunya siapapun tidak senang dinilai buruk, apakah dia seorang penjual barang atau yang lainnya. Walaupun demikian orang yang mengkritik atau yang menilai atau pembeli tidak peduli kalau faktanya memang seperti itu. Jadi bagi orang yang berakal masalah utama bukanlah kritikan yang tidak disukai, tetapi bagaimana dia berusaha agar orang lain atau pembeli –kalau dia sebagai penjual– senang dan puas terhadap kwalitas barang yang dia jual dan pelayanannya, sehingga manusia akan menjadi langganannya. Kritikan justru menjadi koreksi untuk memperbaiki diri dan sifatnya membangun. Kalau faktanya dia baik atau telah memperbaiki kualitas barang dan pelayanannya –celaan orang yang dengki yang tetap saja akan ada– tidak akan membuat pelanggan atau pembeli yang lain akan meninggalkannya, bahkan mereka akan membelanya. Tetapi kalau orang yang dungu maka dia hanya sibuk mencari-cari atau membalas atau menyalahkan celaan atau kritikan orang konsumen tanpa berusaha memperbaiki kwalitas barang atau pelayanannya, akhirnya manusia pun beralih ke penjual lain sehingga dia pun bangkrut. Kalau seperti itu maka janganlah dia mencela kecuali dirinya sendiri. Jadi orang yang menolak atau membenci jarh wa ta’dil, kalimat yang tepat untuk dia adalah: “Buruk muka cermin di belah.”(pent)

 

Iklan

Satu Tanggapan to “Merontokkan Syubhat-syubhat Manhaj Al-Halaby (& Halabiyun) Bag. 1”

  1. Mohan said

    BISMILLAAHIRROHMAANIRROHIYM

    Kutipan dari artikel di atas: “Tidak boleh menyebutkan aib seorang muslim yang dia benci kecuali karena kebutuhan yang dibenarkan syariat, seperti nasehat, amar ma’ruf nahi mungkar, pada masalah riwayat, persaksian dan yang lainnya yang para ulama dengan tegas menjelaskan kebolehannya pada bab ghibah.”

    Tambahan: Al-Imam An-Nawawi rohimahullah berkata dalam Riyadhus Sholihin, bab “Pada perkara/kondisi apa saja GHIBAH ITU DIBOLEHKAN”:
    “BOLEHNYA GHIBAH dengan tujuan syariat yang tidak mungkin tercapai tujuan tersebut kecuali dengannya”. DIBOLEHKAN GHIBAH pada 6 perkara/kondisi:

    1. Ketika terdzalimi
    2. Meminta bantuan untuk menghilangkan kemungkaran
    3. Meminta fatwa
    4. Memperingatkan kaum muslimin dari sebuah kejahatan atau untuk menasehati mereka
    5. Ketika seseorang menampakkan kefasikannya
    6. Memanggil seseorang yang dia terkenal dengan nama itu

    Contoh, Rasulullah sholallahu alayhi wa sallam memperingatkan para shohabah dari Dzul Khuwaishiroh dan dari pengikut Dzul Khuwaishiroh seraya bersabda: “Sesungguhnya ia mempunyai pengikut-pengikut yang salah seorang dari kalian merasa sholatnya tidak ada apa-apanya dibandingkan sholat mereka, shaumnya tidak ada apa-apanya dibandingkan shaum mereka. Mereka membaca Al-Qur’an namun tidaklah melewati kerongkongan mereka. Mereka keluar dari (prinsip) agama sebagaimana keluarnya (menembusnya) anak panah dari tubuh hewan buruan.” (Bukhari 3610 & Muslim 1064)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: